Sunday, 24 May 2015

Her Day


23rd of May is her birthday, she looks so happy posing beside her loved one :))

Tuesday, 28 April 2015

(Langsung) Sekolah Lagi?

"gue bingung ini thesis.."
deg.

kalimat yang meluncur dari percakapan dengan seorang teman sekelas mendadak memutar kran ingatan gue. Pusingnya skripsi yang miris ini tiba-tiba bertumbukan sama kenyataan kalau ada yang harus gue mulai juga. Sisa dua semester lagi untuk menyelesaikan masa studi normal program magister. Dan gue sudah harus memikirkan akan dibawa kemana thesis gue nantinya.

Ahhh.. Banyak orang yang mendukung untuk langsung melanjutkan kembali studi. Dengan pertimbangan "semangat yang masih menyala" dan yang paling klise "mumpung belum kenal uang". Dan dalam konteks yang lebih spesifik, sebagai seorang perempuan; bahwa anak-anak cerdas lahir dari ibu yang cerdas, dan ibu yang cerdas sudah mempersiapkan bekal pendidikan anak-anaknya jauh sebelum ia lahir. Orang tua gue sendiri lebih condong pada alasan yang kurang lebih merangkum beberapa poin "nanggung, dan mumpung". Mumpung ada kesempatan, mumpung dana ada, mumpung masih muda, dan mumpung mumpung yang lain.

Saturday, 25 April 2015

Pengalaman Mendaftar JLPT: Mengisi Formulir

Tanggal 10 April yang lalu adalah batas akhir pendaftaran JLPT untuk tes tanggal 5 July 2015. Dan ini adalah pertama kali gue (akan) mengikuti tes ini. Huah serem! Mmmm, JLPT?

APASIH JLPT itu?
JLPT adalah kepanjangan dari Japanese Language Proficiency Test, atau dalam bahasa asalnya Nihongo Nouryoku Shiken atau singkatnya adalah TOEFLnya versi Jepang. Nah yang membedakan adalah kalau ketika ikut TOEFL kita akan dapat sertifikat "gimanapun" hasil test kita yaitu berupa angka, untuk JLPT ini kita diharuskan untuk memilih "level mana" yang mau kita ambil, dan hasil yang didapat adalah "PASS" atau "FAIL". Levelnya adalah N1 (paling sulit) hingga N5 (paling mudah)

DIMANA KALAU MAU IKUT?
Ujian ini tidak bisa "sembarangan" diikuti, karena untuk penyelenggaraan diluar Jepang, di handle oleh The Japan Foundation yang terdapat diberbagai kota di dunia. Singkat kata, kita bisa ikut kalo ada yang nyelenggarain. Nah, kebetulan, bulan July ini, Unviversitas Dharma Persada nyelenggarain jadi gue bisa ikutan deh

GIMANA CARA DAFTARNYA?
Tanggal 10 kemarin, gue langsung datang ke Universitas Dharma Persada di Raden Inten (sekitaran Buaran) dengan membawa formulir pendaftaran yang sudah dibawakan sebelumnya oleh temen gue (kolektif). Tapi kalo mau beli disini langsung juga bisa, harganya 15 ribu rupiah. Formulir yang udah diisi lengkap kemudian dikumpulkan dan kita diharuskan untuk membayar biaya pendaftaran (70 ribu hingga 100ribu tergantung level). Karena gue ikut yang N5, gue cukup bayar 70ribu. Oiya, gue juga ngebeliin buat temen gue sekalian ngisiin, jadi untuk seluruh rangkaian pendaftaran bisa diwakilkan. Setelah bayar, kita disuruh tunggu kartu ujian datang ke alamat kita. Kece!

SUSAH NGGAK NGISI FORMULIRNYA?
Formulir pendaftarannya sendiri adalah formulir 3 rangkap yang harus diisi sesuai buku petunjuk yang udah sepaket sama formulir yang kita beli. Tenang aja, kualitas kertas rangkap (karbon)nya bagus, nggak kaya di kita yang suka nyiplak nyiplak kotor. Petunjuknya buanyaaaak dan sebenernya sistematis, tapi berhubung di Indonesia gue rasa nggak pernah "se sistematis" itu jadinya malahan bingung pas mau ngisi. Petunjuknya pun dalam bahasa Jepang pang pang, tapi juga ada petunjuk bahasa Inggrisnya. Saran gue, baca dan bolak balik dulu seluruh petunjuknya barulah mulai ngisi. Dan PERHATIKAN ANGKA INDEKS PENGISIAN dan cocokkan dengan petunjuk

Ada section yang menanyakan, apakah kita sudah pernah belajar bahasa jepang, sehari-hari hubungan bahasa jepangnya gimana, apa pekerjaan kita, kenapa ikut JLPT dan sebagainya. Nah cara jawabnya adalah mengisi angka yang sesuai dengan yang ada dibuku petunjuk, misal untuk jawaban "mengikuti JLPT untuk keperluan studi ke Jepang" ditulis dengan angka 6. Pengalaman gue waktu ngisi formulir, gue masih ketuker di bagian occupation dan occupation details, alhasil gue panik (takut 15ribu gue melayang hahaha)

Rupanya, setelah gue tanya ke mbak-mbak di Unsada, bagian yang salah cukup DITIP-EX saja saudara saudara dan diisi ulang! Hahaha uang gue nggak jadi melayang :p
Oiya untuk pengisiannya hurufnya pun harus jelas dan sesuai standar, jangan lupa mengisi alamat domisili kita karena nanti kartu ujian akan langsung dikirim ke alamat tersebut. Dan jangan lupa juga untuk menyertakan  dua lembar foto 3x4 yang ditempel di formulir. Selain itu, kita harus inget sama "password" yang kita "buat sendiri" di formulir pendaftaran. Password ini berguna untuk melihat hasil ujian nanti.

Akhir kata, begitulah pengalaman gue dalam mendaftar JLPT, untuk tahap selanjutnya InsyaAllah akan gue update lagi disini! :)


Friday, 24 April 2015

Mengalahkan Rasa Takut

Rasa takut? Setiap orang pasti memiliki rasa takut yang sadar tidak sadar ada dalam dirinya. Baik itu takut karena sudah pernah mencoba dan ternyata membuat trauma, ataupun takut yang nggak pernah nyoba tapi kata orang sih nakutin, jadi ya takut aja gitu.
Begitupula gue, walaupun kebanyakan orang melihat gue sebagai orang yang berani, cenderung nekat dan easygoing dalam artian mudah ngapa-ngapain, sebenarnya ada banyak hal yang gue takuti.

Salah satunya, gue takut naik gunung.

Sepele?

Gue juga nggak ngerti darimana asalnya rasa takut itu berasal. Yang jelas, I simply cant imagine myself in a forest, following the pathway to reach the peak of a mountain. Besar, luas, dan nggak tau bakalan ada apa aja di dalamnya. Takut kedinginan, takut nyasar, takut nggak nyampe, takut ketinggalan rombongan, bahkan takut sama yang enggak enggak.

Hingga akhirnya gue lupa akan segala reason reason  gue itu. Di suatu malam, gue memutuskan untuk naik gunung (yang sebenernya "rendah" mungkin level sebenarnya adalah bukit) dengan atau tanpa teman (Luckily, Lina was going with me).
Gunung bongkok, di desa Cikadang, Purwakarta.

Gue memulai langkah gue dengan berjuta pikiran yang berkecamuk, tapi yang jelas kaki gue tetap mantap melangkah. Gue merasa seperti, inilah saatnya. Beating my own self is a must, no compromise anymore. Then I kept pushing my limits, dan entah sial atau beruntung, "gunung" yang gue sambangi rupanya punya trek yang bagi pendaki lain yang sudah biasa pun tergolong "waw". Dengan nafas yang udah maksa banget, apalagi sendi lutut yang nggak pernah diajak olahraga akhirnya berhasil membawa gue ke puncak, even I consider the peak as a bonus. Ya, gue berhasil mengalahkan diri gue sendiri. Gue menang.

Bahkan beberapa hari setelahnya gue berani memulai "perjalanan" perdana gue, sendirian, hingga ke puncak gunung api purba nglanggeran. Dan gue semakin sadar, semakin "bisa" dan semakin hilang rasa takut gue, disitulah kewaspadaan meningkat dan kesombongan itu menurun.

Jadi, bagaimana rasanya mengalahkan rasa takut?
Sulit? Ya
Worth to try? Definitely yes.
  



A Gift For Her

Tahun ini, gue tidak membawakan kue dan lilin untuk adik si mas seperti tahun lalu karena lagi giliran si mas yang dapet kunjungan hehehe (mudah-mudahan ga cemburu :p). Lagian, mama ada ada aja, kok bisa-bisanya punya anak dua lahirnya barengan, sama sama 11 April :D

So, setelah ngaret berhari-hari karena mengurus ini itu, akhirnya pilihan kado ulangtahun jatuh kepadaaaaaa.....


Kirain ga se pink ini juga :))

Hehehe pink banget! Beberapa saat belakangan ini memang gue memerhatikan bahwa sepatu sandal kesayangan si adik memang udah agak jebol, jadi pengennya nyariin sepatu aja yang modelnya simple dan dari beberapa pilihan si mas milih yang pink hahahaha. Sempet deg-degan juga karena belinya online, takut ga muat atau ga sesuai ekspektasi. Alhamdulillah pengiriman dari zaloranya cepet jadi bisa langsung kasih :D

Si mas ngirimin ini ke WA hihihi

Senengnya dibilang 'makasih love you ka fitri :* :*' hahaha pasti si mas iri hahaha. Ditelpon juga mama cerita, dia memang udah pengen beli sepatu eh pas pulang udah make sepatu baru terus cerita itu dari ka fitri. Hahahah puas banget "ngerjain" biar jadi cewek :p (kata-katanya si mas)

Mungkin memang hanya benda kecil. Tapi inilah wujud rasa terimakasih gue, atas perhatian yang si adik berikan pada waktu yang lalu. Untuk waktu yang dia sediakan untuk mencarikan gue kado untuk ulangtahun gue, sekedar ke mall dan minta temenin temennya, waktu untuk membungkus kado bahkan sempet-sempetnya ngasih hiasan didepannya, kerelaannya menyisihkan uang jajannya untuk gue :) Makasih, sekali lagi selamat ulangtahun Dian sayang :)

Tuesday, 14 April 2015

Jadi anak mama itu..




Harus sadar siapa yang menciptakan kita, yang ngasih semua rezeki untuk kita. Mama itu, nggak pernah absen ngaji, selalu shalat dhuha dan tahajudnya nggak pernah bolong. Nggak pernah lupa pake hijabnya walaupun di dalam rumah.

Harus mau belajar masak. Setiap masakan mama itu, rasanya pasti enak. Bikin kue juga jago. Harus juga bisa masak menu ikan, karena mama dan keluarga besar doyan banget makan ikan.

Harus rajin. Rumah mama selalu rapi dan bersih. Nggak pernah berantakan.

Harus sabar dan pengertian. Mama nggak pernah marah sama anak-anaknya. Nggak pernah ngomong kasar atau curigaan sama anak-anaknya. Lembut dan mengayomi.

Harus mandiri. Di usianya yang nggak lagi muda, mama nggak bergantung sama orang lain, nggak pernah nyusahin orang lain.

Harus punya pengetahuan luas. Dari mulai politikus, tokoh agama sampe karier artis, mama pasti tau. Jadi harus banyak usaha supaya bisa nyambung ngobrol sama mama.

Dan yang nggak kalah penting...

Harus sayang sama anaknya, apa adanya. Seperti mama yang selalu sayang sama anak-anaknya dengan sepenuh hati.

Masih harus belajar banyak. Sama-sama, pasti bisa :”)

Wednesday, 1 April 2015

Gara Gara Sakit

Sedari kecil, gue selalu didaulat (oleh nyokap) sebagai anak yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah sakit. Bertolak belakang sama adek gue yang cowo, dikit dikit sakit, dikit dikit bolos. Konon katanya, kebalnya tubuh gue karena waktu piyik gue adalah ATM sejati alias Anak Tete Mamak hahahaha. Bahkan kata nyokap, setelah disapih pun gue dulu gak doyan susu formula, jadi emak gue merasa amat diuntungkan. Fix banget bakalan gue contoh pas udah jadi emak emak nanti (demi irit, irit beli susu plus irit bawa anak ke dokter) hahaha

Sayangnya, ketika gue sakit gue jadi merasa amat menderita. Padahal sakitnya cuma menye-menye yaitu: flu!
Seminggu terakhir penyakit sejuta umat ini mampir dengan suksesnya ke gue. Mampirnya gak pake assalammualaikum pula! Senin malam ke selasa pagi, gue merasa hidung gue agak nggak enak sebelah plus badan yg agak ngefly dikit tapi gue masih tralala trilili dengan ceria. Selasa sore pilek langsung melanda dengan buasnya plus bersin keras berkali kali dan sering (sampe ke kampus pake masker di kelas), dan selasa malam badan langsung panas dan sukses tepar hingga keesokan harinya pun masih anget!

Ketidak-fit-an itupun berlanjut dengan indahnya. Hidung yang udah kaya keran bocor, stoknya gak abis abis. Tisu berhamburan dimana-mana. Bener-bener nggak abis abis stok cairan yg terjadi karena bakteri (apa virus?:)))) itu! Hari-hari berlalu, badan emang udah ga pernah panas lagi, tapi jadi gak kuat beraktifitas terlalu lama. Jalan, ngerjain tugas, kuliah, bahkan makan! Gue merasa gagal abis, makan aja cape cobaaa. Dada deg degan, kepala pusing, kaki kaya mau runtuh, dan badan ngefly, bikin mikir dua kali kalo mau aktifitas lebih. Sampe tadi gue ngajar di shift ke dua pun badan gue masih terasa agak error karena sebelumnya beraktifitas.

Pekerjaan dan rencana pun semuanya terbengkalai. Untungnya rencana ke rumah mama masih terlaksana (curiga ketularan masnya karena doi sakit pas gue ke sana), rencana interview SIB school of language di hari selasa batal (padahal karena gue jiper sih ahahah), tawaran ngajar mendadak di hari selasa juga gue tolak. Jadwal ngajar hari rabu juga terpaksa batal karena gue gak mau maksain. Tes psikologi TRAC Astra hari jumat juga batal (kata nyokap gausah aja dulu, tapi bener juga sih gak kebayang kalo harus bawa motor pagi buta macetan sampe rawamangun). Rencana nganter masnya ke pool bis hari minggu juga batal (padahal kangen). Untungnya masih bisa ikut Tes kanji hari Kamis, UTS Komtek hari senin dengan bunyibunyian sroot srooot sepanjang ujian plus supichi hari senin juga.

Huaaaaah rasanya ga enak banget! Berhubung gue jarang keluar seminggu ini, gue baru sadar bahwa orang-orang di bimbel juga pada sakit yang sama, bahkan mas mas warteg langganan gue juga sakit model gini. Hahahaahaha. Intinya, jagalah kesehatanmu sebelum sakit melanda, tapi kalo modelnya pasaran begini, mending banyak-banyak berdoa biar ga keikutan kena!

Kalo ditanya, kok gak ke dokter, klinik kampus atau minum obat warung? Simpel, gue gak berani lagi minum obat warung karena ga jelas; gak punya budget buat ke dokter; tapi terlalu bete kalo inget kesuperjutekan ibu ibu yang jaga loket klinik kampus!

Pendaftaran Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2015: Kab. Siak

[Reminder]
H-2 PENUTUPAN PENDAFTARAN
KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS INDONESIA (K2NUI) 2015

Direktorat Kemahasiswaan Universitas Indonesia memanggil putra-putri terbaik UI untuk turut berperan mengaplikasikan ilmunya dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia (K2N UI) tahun 2015 dengan tema "Bersama Masyarakat Memberi Manfaat".

K2N UI 2015 akan diselenggarakan di Kota Depok, Kabupaten Bogor,  dan Kabupaten Siak.
Pendaftaran mulai tanggal 09 Maret s.d 02 April 2015.

Pelaksanaan Juli-Agustus 2015, Bobot 3 SKS

Persyaratan Peserta:
1. Mahasiswa Aktif UI Program Vokasi dan S1
2. Telah memperoleh minimal 50 SKS
3. IPK minimal 3,0
4. Berbadan sehat
5. Tidak mengambil mata kuliah lain di semester pendek 2014/2015 selain K2N UI
6. Bebas narkoba dan tidak merokok
7. Mendapatkan izin Orangtua

Segera daftarkan dirimu. Silahkan unduh berkas pendaftaran di http://bit.ly/k2nui2015

Kumpulkan berkas persyaratan ke Sub Direktorat Olahraga dan Kepedulian pada Masyarakat, Senin-Jumat pada jam kerja.

Informasi lebih lanjut
Telp/SMS/WA : Risma 0813-8924-9524
twitter : @k2nui
email : k2nui15@gmail.com
alamat : Sub Direktorat Olahraga dan Kepedulian pada Masyarakat, Gedung PPMT Lantai 1

Sunday, 29 March 2015

Belajar Langsung dari Orang Jepang

Sebelumnya, gue udah nyeritain lika liku gue dalam belajar bahasa jepang, lebih tepatnya tentang manfaat yang didapat. Yak, tanpa disadari, gue bisa dapet kesempatan "belajar toto kromo dan tete bengeknya" dari orang jepang langsung which is guru gue di kelas. 

Oiya, rupanya, di kelas kita tidak diinstruksikan untuk memanggil pengajar dengan sebutan "sensei" melaikan hanya memanggil nama dan tentu saja ditambah san dibelakangnya. Rupanya, untuk di jepang sendiri, sensei lebih mengacu pada guru formal dan dokter atau yang memiliki keahlian khusus lain.



Guru yang mengajar kami sehari-hari ada dua orang yang bergantian masing-masing sekitar 1 setengah jam. Felix san, mungkin umurnya hanya beberapa tahun diatas kita. Konon katanya sudah 6 tahun terakhir di Jepang untuk sekolah dan bekerja, tapi rumah sih bogor. Jadilah beliau ini yang ngajarin tenses kita, mungkin karena kemampuan bahasa beliau imbang, Indonesia dan Jepang. 

Yang kedua yaitu Sakamaki san, beliau ini kelihatannya sudah lebih dewasa. Asli Jepang, ngekos di Kutek, sisanya enggak tau lagi karena nggak berani nanya. Takut bo, kan orang luar pasti nggak kaya orang Indonesia yang bisa kita tanya seenak udel. Beliau ini bahasa Indonesianya masih campur-campur alias nggak begitu lancar, tapi udah lumayan bagus buat orang asing, jadilah beliau yang menjadi pendamping kami terkait latihan-latihan, intinya yang nggak perlu bahasa Indonesia terlalu panjang. Nah dari beliau inilah gue bisa melihat “etos-etos” kerja dan berkehidupannya orang Jepang.

·         Amat tepat waktu
Beberapa kali gue melihat contoh langsung dari hal ini. Beliau akan datang pada jamnya seharusnya datang dengan tepat tanpa terlambat semenit pun. Kalo kecepetan sih, sering. Pernah suatu kali, jam mengajar Felix san sudah habis, tapi Felix san masih di dalam kelas dan terus mengajar. Sakamaki san hajar aja tuh masuk kelas dan “negor” felix san. Felix san merasa jamnya belum habis. “Berantem” lah mereka soal sekarang jam berapa. Rupanya jam tangan felix san yang kelambatan. Hahahaha. Coba kalo di Indonesia, ngeliat guru sebelumnya masih asyik ngajar pasti (ya kebanyakan lah) guru setelahnya bakalan diem aja malah asik jamnya molor berarti waktu kerjanya berkurang. Hehehe

·         Kerja dengan sistematis
Sistem yang diberikan untuk sesi latihan ini nggak melulu dengan ngisi soal dibuku, tapi juga dengan latihan tanya jawab dengan teman, mengulang kosakata dengan gambar, mengulang membuat kalimat secara langsung, mengulang membaca kanji, bahkan dengan main game. Dengan berbagai jenis latihan itu, semua bisa dipenuhi dalam waktu yang telah ditentukan, 1 jam 30 menit, setiap sesi jenis latihan sudah dirinci berapa menit menitnya. Nggak ada yang ketinggalan atau “sisanya besok ajadeh” atau “belum buuuuu” kaya kita biasanya.

·         Konsisten pada peraturan
Kondisi pintu kelas kami memang udah nggak bisa ditutup terlalu rapat lagi. Sakamaki san memang pernah bilang, semua yang masuk harus menutup pintu kembali. Suatu saat, di tengah pelajaran, pintu terbuka. Sakamaki san menyuruh untuk menutup. Refleks yang paling deket sama pintu bangun dong untuk nutup, lalu Sakamaki san melarang dan bilang, harus ngaku siapa yang terakhir masuk dan dia pulalah yang harus menutupnya (padahal emang karena kebuka sendiri). Wow. Sejak saat itu, kita selalu ganjel pintu dengan kursi biar nggak salah paham lagi.
Pernah juga di awal awal ada yang kena tegur karena ngeliat kebawah terus yang rupanya ada hp, beliau bilang lihat sedikit nggak apa apa, tapi kalau terus-terusan jangan. Bahkan beliau bilang gini “Kalau di Jepang nggak boleh menggunakan HP saat belajar di kelas, semua dimatikan, disini nggak ya?” Jleb.

·         Jujur & ulet
Setiap latihan, akan datang masa dimana nama kita dipanggil bergantian untuk menjawab soal. Kalau emang kita nggak bisa, dia akan menginstruksikan “ya coba dibantu” supaya teman yang lain memberikan jawaban yang benar. Tapi jangan harap ketika ujian bisa begitu. Setiap minggu, kita dirandom untuk maju menampilkan hafalan kaiwa (percakapan) sekitar 5-10 kalimat perorang. Ketika ada yang lupa lalu pasangan kaiwanya membisikkan bantuan, akan langsung ditegur oleh beliau. Jadi, kita harus nunggu aba-aba untuk membantu atau nggak. Begitu pula saat ujian, jangan harap bisa tanya-tanya teman.

·         Menjalankan tugas dengan sepenuh hati
Nggak ada tuh ceritanya beliau keliatan nggak semangat atau males-malesan ngajar. Selalu all out. Keliling-keliling meriksain tulisan kanji kita, dengerin latihan percakapan kita dan lain-lain. Ada suatu waktu, salah satu teman membawa 2 loyang kue dan memang menyisakan untuk Sakamaki san, beliau yang memang sudah jamnya masuk sedang menaruh tas di meja guru. Teman tadi kemudian menghampiri dan menawarkan kue tadi. Kemudian beliau menolak dengan sopan dan mengatakan “nanti saja” wow lagi! Beliau tau itu sudah jam mengajar dan nggak ada alasan buat dia buat makan. Kalo di kita, makan kue sampe setengah jam juga gakpapa deh. Hahahahha

Yak, itu tadi beberapa hal positif yang gue notice yang bisa gue pelajari langsung dari orang Jepangnya asli. Buat gue sendiri jujur hal itu susaaaaah banget buat diterapin di sini. Jadi, sudah siapkah anda untuk hidup/bekerja/sekolah di Jepang? :D

Friday, 27 March 2015

His Home

"Besok ada kuliah jam berapa?"
"Mmm.. Paling jam 11 Ma, bimbingan doang. Tapi nggaktau sih temen Fitri belum bales juga, biasanya berduaan janjiannya"
"Oh, siang banget dong. Yaudah sana mandi, Fit. Pulang besok kan"
"Hehehe hehehe. Sebenernya jenuh juga sih Ma di kosan terus"

His mom.
Yang walaupun nggak akan bicara dengan intonasi keraton, tapi selalu membukakan pintu pagar dengan senyuman. Selalu menanyakan sudah solat atau belum, menyuruh mandi ketika maghrib tiba sembari menyodorkan handuk bersih, dan menaruh sepasang baju kepunyaan anak perempuannya untuk gue pakai seusai mandi dengan tak lupa menanyakan apakah baju tersebut muat atau tidak di gue (yang tentu saja selalu kebesaran). Bertukar cerita sambil makan malam duduk di lantai. Sesekali tertawa kelewat geli, atau khusyuk bercerita tentang masa lampau

Pagi-pagi menyiapkan teh hangat yang gulanya belum dituang, mengobrol di depan televisi sampai jam sembilan. Memasakkan makan siang bila sempat, melarang pulang bila hujan, dan melambaikan tangan ketika motor yg dikendarai anaknya bergerak maju menuju stasiun. With me on the backside.

And his little sister, yang akan menanggapi ocehan gue dengan "oiyaaa?". Lalu tidur belakangan karena masih menonton bioskop malam di tv.

His home. Yang tak pernah gagal membuat gue tenang.

Usia, Kesempatan dan Pilihan

Mungkin memang usia early 20's seperti gue sekarang adalah masa masa paling "rawan". Kalo usia dibawah 20 adalah masa dimana seseorang belum memikirkan sebab akibat akan sesuatu, belum sadar akan resiko, maka di early 20's ini justru lagi sadar-sadarnya sama resiko, itung-itungan atau apalah namanya. Tapi celakanya, makhluk Tuhan di usia ini terlalu ribet mikirin itungan itu sampe ga jadi jadi ambil keputusan, yang sayangnya terkait masa depannya sendiri *ngomong sama kaca, ya kan Ca?*

Masa-masa peralihan. Istilahnya tuh bakal ada beberapa keluaran yang mungkin: ada yg ga sukses move on dari masa remajanya, ada yang setengah mati maksa biar bisa jadi dewasa, ada yang sukses jadi dewasa dan ada juga yang pasrah sama keadaan. Let it flow aja brow.

Tepat seperti yang sedang gue rasakan sekarang. Antara karena memang terlalu jenuh akan rutinitas selama 4 tahun belakangan ini, terlalu bengah mengingat tanggung jawab yang tak kunjung usai, or simply karena memang gue pengecut bahkan untuk menghadapi my own future.

Di satu sisi gue ingin segera menyelesaikan apa yang sudah gue mulai 4 tahun lalu *yang juga gue mulai dengan susah payah* yang kalau diibaratkan tuh seperti cepirit yang udah tinggal ampasnya doang, dikit, tapi tetep aja masih nyisa dan baunya gak ketulungan. Ya, lulus lalu bekerja sebisanya dan sepahamnya, ngumpulin uang sedikit demi sedikit sampe cape, baru mikirin kehidupan selanjutnya. Hambar. Ya, layaknya orang normal aja gitu.

Sisi lain dari diri gue terus menyemangati diri sendiri untuk menyelesaikan hal kedua yang sudah gue mulai setahun yang lalu. Gile bok, tinggal setengahnya lagi. Gitu kalo kata orang-orang. Sehingga kalimatnya akan menjadi menyelesaikan keduanya dengan bahagia. Lalu kabur ke Jepang, ke Australia, ke Belanda kemanalah. Cari selain rupiah atau kuliah lagi pake beasiswa. Meres otak lagi, jadi peneliti kece, pulang ke Indonesia dengan superbangga. Edisi orang jenius.

Sisi yang lain, cuma pengen nemuin sesosok laki-laki yang mengayomi, yang bener-bener bisa nemenin, pulang ke rumah yang sama setelah ketawa-tiwi seharian, ngetawain kebodohan hari itu. Punya anak tiga yang ngences sana sini, nunggu suami pulang dari KRL pepes, tidur dengan genteng bocor, lauk di meja makan cuma tempe goreng, tapi hati bahagia. Tentram. Nyaman. Nggak butuh apa-apa lagi.

Tapi satu sudut hati yang lain, cuma pengen kabur bawa seluruh duit yang dipunya, pergi tanpa tujuan pasti, ke belantara pedalaman dan pulang tiga bulan kemudian dengan uang recehan, muka dekil dan hitam, tapi membawa pulang hati yang hangat. Hangat karena membuat orang lain bahagia dengan "tindakan super sederhana" kita.

Belum dewasakah gue? Ya. Pasti

Friday, 20 March 2015

Bukan Sekadar Belajar Bahasa

Nggak kerasa sudah dua bulan lebih gue ikut training bahasa Jepang (gratis, catat, G R A T I S) dari Revo Community, dalam program bernama Asean Recruiting Project, walah kece banget namanya. Yang kalo gue boleh nebak itu semacam suatu lembaga yang menyalurkan tenaga kerja asing, dalam hal ini dari beberapa negara asean ke negara tujuan yaitu jepang. 

Nah, sebelum kandidat ini di seleksi untuk bisa masuk ke perusahaan jepang, maka wajiblah di training agar bisa bahasa jepang, yaitu minimal memegang sertifikat JLTP N4 (level conversation)
Terhitung sudah beberapa kali gue mengikuti ujian, sebut saja:
  • ujian dasar hiragana dan katanaka (2 kali)
  • ujian tenses (3 kali)
  • ujian kanji (3 kali)
total 8 kali dalam kurun waktu 2 bulan 1 minggu belum termasuk hapalan kaiwa (percakapan) yang diuji secara random. Yah kalau dirata-rata, bisa dibilang tiap minggu ujian deh (waktu tulisan ini di edit, 29 maret bahkan udah nambah dua ujian lagi dan besok udah punya utang supichi alias speech di depan kelas hahaha)

Yah walaupun gue hanyalah anak yang biasa biasa saja bahkan bisa dibilang cenderung kurang di kelas, gue tetap cukup bersemangat untuk datang setiap sorenya. 5 kali dalam seminggu selama masing-masing kurang lebih 1-3jam mendengar, mencoba berbicara, membaca dan menulis dengan bahasa asing yang hurufnya juga asing rupanya memberikan pengalaman tersendiri. 

Maklum aja, selama inikan gue (dan kebanyakan dari kita) pakenya bahasa ibu, selain itu paling-paling bahasa Inggris mixed waktu sekolah, lalu les bahasa Chinese yang cuma 1-2kali seminggu, belum ada yang seintens ini (dan guepun ga kuliah jurusan sastra negara tertentu)

Walaupun gue susah fokus dikelas, banyak nanya tetangga kanan kiri, nilai ujian jeblok, hobi bengong di kelas, tapi training ini mengajarkan banyak hal lebih dari sekadar belajar bahasa 

1.      1Membuat gue menjadi lebih giat dan pantang menyerah
Gimana nggat giat. Materi seabrek meliputi puluhan kosakata yang harus dihapal setiap harinya, tenses yang agak sulit dipahami (nggak kaya bahasa inggris yang lumayan jelas aturannya), dan kanji lucu-lucu yang juga harus dihapal minimal cara membaca plus artinya; beat pembelajaran yang super cepet; plus emang gue kagak ada keturunan jepang sama sekali (you dont say) mau nggak mau membuat gue menjadi lebih giat (versi gue).

Gue yang seumur sekolahnya jaraaaaaaaang banget belajar, palingan ngerjain tugas doang itupun selalu SKS atau Sistem Kebut Beberapa Jam, mendadak jadi suka buka-buka buku, melototin kanji, mikir-mikir lucu setiap malemnya, setiap ke warteg dan setiap ke WC (oke ini lebay). Udah gitu, nilai gue masih juga dapet 19!! (Nilai maksimum 50) Huahahaha inilah kenapa gue bisa bilang “pantang menyerah”!!

2.       2. Membuka ruang baru untuk pergaulan
Harus diakui, hidup sebagai makhluk tingkat akhir membuat circle pertemanan gue semakin kecil. Beda sama waktu maba dulu yang bisa dengan mudah berteman dengan siapa saja dan darimana saja. Temennya si ini, temen temen temennya si ini, hajar. Tapi sekarang, mungkin circle dekat gue bisa dihitung pakai jari. Lu lagi lu lagi. Dengan ikut kelas ini, gue jadi ketemu dengan banyak orang baru, belajar bersosialiasi lagi, dapet lingkup yang berbeda dari yang biasanya gue hadapi. Lumayan membuat segar, tidak hanya karena subjeknya tapi juga karena materinya yang “diluar” dari kancah pembelajaran formal gue yang ipa banget. Selain itu, dikelas sering muncul celetukan-celetukan yang sering bikin ngakak (orang jepang suka bikin kata-kata aneh-aneh sih)

3.      3.  Memberikan kesempatan untuk belajar langsung dari orang jepang
Bukan hanya tentang materi pelajaran tapi juga tentang sikap dan sifat. Yang ini kayaknya perlu diceritain tersendiri. Hehehe

Ya, itu tadi sekelebat suka duka gue dari les yang sudah gue jalanin rutin selama 2 bulan terakhir ini, mudah-mudahan gue dan teman-teman bisa betah dan berjuang hingga titik darah penghabisan. Ganbarimasu minna san!
 

Saturday, 14 March 2015

Blue Sky Collapse

As I walk to the end of the line
I wonder if I should look back
To all of the things that were said and done
I think we should talk it over

Then I noticed the sign on your back
It boldly says try to walk away
I go on pretending I'll be ok
This morning it hits me hard that

Still everyday I think about you
I know for a fact that's not your problem
But if you change your mind you'll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse

As I stare at the wall in this room
The cracks they resemble your shadow
When everyday I see time goes by
In my head everything stood still

I'm waiting for things to unfreeze
Till you release me from the ice block
It's been floating for ages washed up by the sea
And it's drowning, thought you should know that

You see people are trying
To find their way back home
So I'll find my way to you

"Its not the kind of sadness where you cry all the time, but more like the sadness that overwhelms your entire body. It leaves your heart aching and your stomach empty. It makes you feel weak and tired, yet you can't sleep 'cause even the sadness is in your dreams too. Its almost like a sadness you can't escape."

Saturday, 7 March 2015

Lagi

Selamat tanggal 7 ke 43 :)

Mudah-mudahan Allah meridhoi kita menjadi pasangan dunia akhirat yg bisa saling melengkapi, menyempurnakan sebagian agama kita :)
Mudah-mudahan insya Allah diluruskan niat dan disegerakan, dibukakan jalan tuk menjadi keluarga, bisa berkumpul bersama tak terpisah jarak lagi :) aamiin ya Rabbal alaamiin
Terimakasih selalu mempercayaiku, terimakasih mengajariku tuk percaya, kamu selalu tau aku mau ngomong apa lagi :)

Tuesday, 20 January 2015

Happy Memory Serum

Pagi itu hujan gerimis, gue berniat meminta foto-foto perjalanan yang selama ini lebih sering tidak gue miliki dengan asumsi "disimpen fatah". Nggaktau kenapa ya, membuka foto itu setelah selang waktu yang cukup lama menimbulkan rasa yang luar biasa. Kalo kata mas alexander di Instagram mah, itu tuh jadi semacam "Happy Memory Serum". Yap, ketika gue membuka foto itu satu demi satu, gue seperti jalan lagi, bahkan heboh dan bisa ketawa tawa sendiri saking kagetnya ada foto macem begitu. Dan biasanya bakalan sibuk merecall kejadian kejadian yang berkaitan sama foto itu.

Nah, karena drive D laptop gue sudah sangat penuh, gue memutuskan untuk beberes sedikit. Ketika mengobrak abrik file desktop (entah versi berapa) gue melihat ada folder "MPKT". Isinya adalah presentasi tempat wisata atau icon Indonesia, diwakili 1 foto setiap provinsinya. Slideshow foto ini yang jadi latar ketika kami medley menyanyikan lagu lagu daerah nusantara, sebagai tugas akhir mata kuliah MPKT jaman maba dulu.

Alangkah terharunya gue ketika menyadari beberapa tempat di foto itu sudah pernah gue datangi, ya bersama Fatah. Rasanya tuh... Gimana ya, you expected nothing when you were searching those photograph but then the fact is you've seen some of the photograph by your own eyes.. on your own foot..
Guepun berteriak kegirangan di depan fatah. Dia hanya senyum senyum dikulum. Ahaha.

Pasar terapung banjarmasin dengan perahu warna warni, buah dan sayuran dagangannya. Tulisan besar "Pantai Losari", mengingatkan gue pada pisang epe gula merah yang dinikmati di malam syahdu dengan sepoi ombak. Dan, penari dayak yang cantik cantik dengan pakaian adat lengkap dengan latar dinding ukiran ukiran khas dayak. Yah meskipun yang terakhir itu belum berkesempatan melihatnya sama fatah, semoga lain kali. If I could say, antara foto dari internet dan apa yg gue lihat itu 99% sama! Yang membedakan adalah, kepuasan dari dalam diri bahwa, ini lho, negeriku yang katanya indah, gue udah berusaha biar bisa tau secara langsung, nggak cuma ngawamg ngawang lihat di tv, lihat di majalah, lihat di kalender. Ya walaupun baru sejumput dan dengan keadaan yang serba terbatas dan usaha yang tidak sedikit. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Tuhan memang super baik untuk kita yang niat berusaha. Semakin ketagihan tuk berusaha mewujudkan mimpi kami, semoga selalu ada jalan untuk itu. :)

Saturday, 17 January 2015

Rezeki!



Time flies way too fast, and I really miss traveling :’( (nggak nyambung)

Hari-hari pengangguran gue telah tiada wkwkw lebay. Program les jepang-jepangan sudah dimulai tepat tanggal 12 kemarin. Seperti biasa, gue telat. Hahahaha. Dengan muka beler super ngantuk gue duduk dipojokan depan kelas. Gue berasa lagi belajar ngaji di planet lain. Wow. Mau maksa memori zaman SMA belajar bahasa jepang 3 taun rupanya udah tetot banget. 

Dari yang gue perhatiin, cara belajar program ini fokus ke step by step dengan pengulangan dan verbal. Makanya, gue bilang berasa kaya lagi ngaji hahaha seandainya satu huruf dihitung 10 pahala. Kami diajari sama Felix san dan Sakamaki san. Felix san ga berhenti-berhenti ngomong “Hai” dan Sakamaki san punya aksen bahasa indo yang jepang banget plus masih suka salah salah kosakatanya, contohnya aja doi nyebut “catat” jadi “cacat” hahaha rupanya kita sama-sama belajar. Yah, gue lumayan terhibur siang itu. Doakan gue berhasil survive yah!

Sorenya gue ikutan “rapat” sama Mba Yuni (dosen pembimbing waktu K2N kemaren) tentang community engagement yang akan dilaksanakan di Nunukan. Ini semacam pengmas dari DRPM lanjutan dari K2N kemarin dan Mba Yuni butuh tim anggota dari alumni K2N Kalimantan. 

Dari hasil pembagian kelompok, gue akan bertugas di desa Pembeliangan, pulau Sebuku bareng teman-teman desa Langap yang lalu! Yeay, berarti semua keburukan gue sudah diketahui dan tidak perlu repot-repot jaim lagi (di hari-hari awal) hahaha. Mulai dari kebiasaan-kebiasan aneh, kebarbaran gue dan stigma gue sebagai tempat sampah penampung sisa makanan anak-anak hahaha. Hampir aja gue ditaro di desa Tanjung Ulu yang super terpencil dan terbatas, ya 11 12 lah sama desa Langap. Sebenernya nggak masalah sih justru bakalan menantang banget. Yang jadi masalah, Tanjung Ulu adalah desa dengan populasi agas yang besar! Gue nggak terbayang badan gue bakal penuh oleh bentol-bentol merah besar yang akan berubah menjadi bintik hitam besar seperti Agustus kemarin *bulu kuduk langsung berdiri* Untungnya desa Tanjung Ulu sudah fullbooked oleh tim yang lalu yang ternyata hampir bisa berangkat lagi semuanya. Masih kepo soal agas? Silahkan googling, resiko tanggung sendiri yah! Pokoknya senang. Senaaang. Semoga ada kesempatan untuk balik ke Langap :”)

Oiya, sepulang les juga gue bertemu dengan Nunu di lobby K! Nunu adalah kucing kosan gue yang dibuang oleh penjaga kosan dengan clue “di kampus”. Yaampun gue seneng banget dan nggak berhenti-berhenti meluk-melukin Nunu yang sempet lupa sama gue. Akhirnya Nunu gue beri salam sampai ketemu lagi berupa seekor ikan lele dari kantin.

Haripun ditutup dengan nikmatnya nasi bebek kukel. Alhamdulillah :”)