Showing posts with label life lessons. Show all posts
Showing posts with label life lessons. Show all posts

Thursday, 11 December 2014

Sempurna

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tidak ada satupun. Memang, ketidakpuasan dan selalu mencari hal yang berlebih dan lebih lagi adalah kelemahan manusia. Tapi bukankah untuk itu manusia diberikan akal? Diberikan hati? Untuk senantiasa belajar. Untuk senantiasa menimbang. 

Punya cukup akal dan hati untuk tidak tamak. Untuk tidak selalu menuntut dan tidak selalu mencari kekurangan orang lain. Untuk tidak selalu mencari pembenaran akan keserakahan yang jelas akan menjerumuskan.

Menghargai apa yang dimiliki saat ini, yang bisa jadi disaat yang sama diinginkan dan diusahakan orang lain begitu gigihnya namun orang tersebut tetap tidak dapat mencapainya. Sederhana, karena itu memang tidak ditujukan untuknya. Menjaga apa yang selalu menjaga kita saat ini dan semoga hingga nanti dan nanti. Menjaga sosok yang bisa jadi telah berkorban dan mengusahakan segala sesuatunya hanya untuk menyunggingkan sedikit senyum di bibir kita. Mengesampingkan ego dan berpikir jernih, dan tidak mengada-ada dengan segudang alasan untuk tidak bersyukur dengan yang Tuhan berikan.

Bukankah apabila kita bersyukur akan apa yang kita miliki sekarang Tuhan akan senantiasa menambahkan dan melimpahkan rezekinya kepada kita?
Coba tilik lagi, pahami lagi, dalami lagi, dengan hati. Sudahkah engkau bersyukur dan menjaga apa engkau miliki saat ini?
 
Bahan renungan dari obrolan bersama seorang teman, akan sosok sempurna yang ia harapkan

P.S: ingat kamu.
        yang acapkali membuatku merasa menjadi sosok sempurna dihadapanmu.

Saturday, 6 December 2014

Oui, c'est la vie!

"Jangan pernah mendengarkan kata orang ketika ia berusaha ikut campur dalam urusanmu. Ini hidupmu, jalanilah sebaik mungkin sesuai dengan yang kamu inginkan. Ketika kamu menjalani hidupmu karena terpengaruh orang lain, justru bakal jadi beban buatmu dan orang yang mempengaruhimu itu bakal senang. Jadi lebih enak kalo menyenangkan diri sendiri daripada menyenangkan orang lain yg belum tentu baik di kamu. Sekali lagi, ini hidupmu. C'est la vie!"

Through the Ups and Downs

Rampung mengedit dan menambahkan bumbu-bumbu di tulisan Fatah tentang pengalaman dan tips trik traveling naik kapal laut membuat gue jadi teringat akan suka duka selama perjalanan laut 3 hari 2 malam dari Makassar menuju Jakarta via Surabaya. Waktu itu adalah trip jauh pertama gue bersama Fatah sekaligus pertama kali gue menginjakkan kaki di pulau Sulawesi. Saking excitednya tanpa pikir panjang gue mengiyakan tawaran Fatah untuk pulang ke Jakarta naik kapal laut.

Sebenernya segala sesuatunya masih dalam batas yang bisa di tolerir, makanan, tempat istirahat, bahkan tempat bebersih diri. Namun karena itu adalah pengalaman pertama gue, gue sedikit kelimpungan juga. Pusing alias mabuk perjalanan pun tak ayal gue rasakan. Juga nggak nafsu makan pun tak bisa gue elakkan. Bukannya gue pemilih, hanya saja makan dengan lauk yang sudah bisa ditebak apa dan rasanya cenderung hambar sungguh nggak bisa membuat gue selera. Di satu kesempatan makan, gue hanya memakan lauk dan sedikit nasi saja. Fatah yang nggak tega akhirnya menghabiskan sisa nasi gue hanya dengan lauk sambal, bener-bener habis ga bersisa. Dia juga dengan sabar membuatkan gue susu hangat dan energen subuh-subuh waktu gue bangun, menyuruh gue lekas mandi sebelum antrian kamar mandi mengular dan ketika gue kembali sudah ada mie rebus hangat tersaji. Semua dia lakuin semata-mata hanya untuk membuat gue merasa lebih nyaman. Duh malu-maluin banget ya gue, ngerepotin banget udah kaya putri raja aja.

Gue jadi terpikir, kayanya memang kita baru bakalan tau ketulusan seseorang disaat-saat sulit kita, bukan hanya saat kita bahagia. Memang disaat gue travelling bareng gue sering ngerasa kita klop dan seneng banget bisa seru-seruan bareng. Tapi sebenernya justru yang jadi intinya adalah disaat susah misal saat di kapal itu. Partner kita masih bisa dengan sabar mendampingi kita disaat terburuk kita bisa jadi adalah ungkapan rasa sayang yang sesungguhnya.

Ini nggak cuma berlaku dalam hal hubungan dua anak manusia beda gender. Pernah nggak kalian merasa punya temen yang disaat kita seneng dia selalu nempel, tapi disaat kita sedih dia kemana tau hilang ditelan bumi. Atau ada juga temen kita disaat dia butuh pertolongan langsung ngejer kita kaya mau nagih utang tapi disaat gantian kita yang butuh pertolongan dia pura-pura nggak denger.

Ya, dalam pertemanan juga gitu. Kita baru bisa ngerasain mana yang beneran temen kita disaat kita jatuh, disaat kita lemah, disaat kita membutuhkan pertolongan. Bukan berarti gue pendukung tipikal orang yang pilih-pilih teman lho ya. Tapi maksud gue disini adalah, ada saatnya kita harus membuka mata dan menyadari mana teman yang baik untuk kita dan mana yang bukan. Gue sendiri pernah mendengar kutipan dari sesorang, kurang lebih "Orang lain akan merasa dekat kepada kita saat mereka menolong kita". Mungkin selama ini kita berpikir sebaliknya, kita sebagai orang yang ditolong yang akan merasa dekat. Namun setelah ditelaah, memang benar, ketika kita menolong seseorang kita merasa dekat dengan orang itu. Akhir kata, hiduplah di lingkungan yang memberikan efek positif bagi dirimu, yang rela untuk mendampingi kita disaat tersulit kita, dan jangan lupa untuk melakukan hal yang sama :)

P.S: Sebuah bahan pembelajaran juga bagi penulis yang masih terlalu banyak kekurangannya

Wednesday, 3 December 2014

How I Meet Him



Satu malam lagi ku lewati bersamamu. Kata orang sih, malam minggu. Tapi buatku, semua malam dengan kamu itu malam minggu. Seperti pagi tak akan datang menjemput, mungkin?
Begitu nyaman. Dengan obrolan penghangat dingin malamku.

Kadang aku bertanya, kau tak punya pekerjaan lain ya? Kau selalu ulangi hal yang itu-itu saja: Membuatku terlelap, dengan sesungging senyuman
Kau tahu? Aku seperti merasakan wangi tubuhmu. Seperti berada di balik punggungmu.

Meskipun ternyata hanyalah rangkaian huruf pelepas rindu. Tapi aku suka, aku suka seperti ini.

Disana kau pun tersenyum juga kan? :)

---

Mungkin banyak yang sepikiran dengan gue, gue bukanlah seseorang yang pandai, bisa menulis, dan biasa menulis misal tulisan ilmiah, puisi apalagi politik; meskipun sebenernya gue suka. Suka untuk menjadi penulis dan pembaca sekaligus, bagi diri gue sendiri. Gue sering sekali menulis dalam otak gue. Rangkaian kata dan diksi sambung menyambung menjadi satu, lancar bagai jalan tol yang baru diresmiin dan masuk headline koran. Tapi ya itu, habis ditulis diotak (sembari gue baca di otak juga) ya selesai. Gak konkret? Memang. Huahaha I think most of us do the same thing.

Kalaupun ada tulisan gue yang dibaca oranglain pastilah itu rangkaian kata-kata gue yang bakal endup into my bf inboxes; email or mobile phone also his window chat. I can write like numbers of pages hahaha bersyukurlah dia selalu sabar akan hal itu.

 I used to write scientific writings in my senior high school, but once (or twice) I won the competition and got the trophy, I simply did nothing else hahaha. Oh iya ada satu lagi kemungkinan secuil tulisan gue dibaca orang lain yaitu di buku yang diterbitin secara independen sama NGO Oxfam dan Hivos regional Asia Tenggara, “Dari Desa untuk Kita: Catatan Anak Muda tentang 5 Desa” Yeah I was too lucky at that time.

Namun entah kenapa malam ini gue tergerak untuk sedikit mengobrak-abrik diksi-diksi kecil yang pernah gue tulis dan gue post di blog untuk my bf, contohnya yang di atas tadi. Gue juga bingung kenapa bisa sampe nulis begitu, dan ga cuma satu, rupanya ada lumayan banyak :)

Terlintas sesuatu di pikiran gue, “How I meet him”
---
Dibawah pepohonan rindang di depan perpustakaan, gue bertemu dengannya untuk kali pertama. Jabat tangannya begitu erat sambil melafalkan nama
“Fatah”
“Fitri”

Setelah itu, gue lupa adegan selanjutnya. Yang gue inget dia senyum-senyum ke gue, yah mungkin seneng karena dijodoh-jodohin. Sejujurnya gue bingung apa yang membuat dia tergerak untuk directly menemui gue saat itu. I bet my photos on social media weren’t that good, dan pribadi gue cukup biasa-biasa aja saat gue balas chat dia. Like yea, I didn’t expect too much.

Ternyata yang terjadi berbeda.

Pasar malam di parkiran stasiun Tanjung Barat jadi saksi kencan pertama. Kencan malu-malu dengan permen kapas merah muda. Mirip-mirip roman picisannya anak muda beranjak remaja, tapi begitulah adanya. Gue dan dia yang kebetulan sama-sama pake baju putih senyum tipis-tipis sambil mencuri pandang. Wow dia tinggi banget, pikir gue. Gue sendiri sampe sekarang nggak tau apa yang sejujurnya ada dipikiran dia saat itu, mungkin dia mikir “Gile ni anak, ospek aja belum becus udah pacaran aje ama anak orang” Huahaha. 

Apakah gue jatuh cinta pada pandangan pertama? Bahkan gue lupa wajahnya setelah kencan itu. Gue harus intip-intip social medianya sambil mengingat-ingat sudut kemiringan hidungnya, arc tangen senyumannya dan jumlah helai rambutnya. Oke, gue bercanda hahaha tapi gue serius soal lupa tampangnya. 

Lalu apa yang membuat gue jatuh cinta?

Pertanyaan yang hingga sekitar 1200 hari kemudian belum bisa dengan lantang gue jawab. Cerita ini tentu bukan cerita ecek-ecek yang tanpa kendala dan udah ketauan endingnya. Gue jadi keinget suatu quotes, “Bisa jadi orang lain memiliki masalah yang jauh lebih pelik daripada kita, hanya saja dia tidak mengeluh” Thats it! Biarlah duka-duka itu kita simpan berdua, perjalanan kami memang nggak selalu lurus, tapi worth untuk diperjuangkan ketimbang terus-terusan hanya jadi drama queen berharap orang lain peduli dan sibuk mengumbar hal yang bisa jadi orang lain sudah muak untuk melihatnya. 

Jadi, apa yang membuat dia jatuh cinta?

---

“Untuk apa jauh-jauh lagi mencari, sementara dalam dirimu saja aku sudah menemukan alasan untuk hidup: bahagia bersamamu. Ini sudah benar dari awal, aku mencintaimu tanpa tanda tanya”
Penggalan syair Moammar Emka dalam buku Dear You, pada halaman yang tak sengaja terbuka.