Dalam satu setengah tahun terakhir ini, ketika gw bertemu dengan random people dan ditanya sudah lulus SMA belum? (Oke ini ngaco, tapi emang pernah ada orang khilaf yang nanya begitu *kesenengan*). Maksudnya, orang bertanya "Sudah semester berapa?" Gw cenderung akan menjawab "Semester terakhir" Lalu mereka bertanya lagi "Semester berapa?" Kalau gw sedang malas gw akan jawab semester 8. Tapi kadang gw jawab dg baik dan benar, semester 2, atau semester 4. Lalu pertanyaan lain akan muncul dan panjanglah lagi gw bercerita hahaha.
Oke sebenarnya gw akan jadi sales sedikit di postingan ini. *pasang muka dagang*
Jadi, di UI khususnya di Fakultas Teknik ada program bernama Fast Track. Singkat cerita, itu adalah program semacam aksel kalau di SMA / SMP. Kalo aksel sekolah irit setahun, nah ini juga sama. Jadi kuliah S1 + S2 irit setahun, alias cukup 5 tahun saja. Kok bisa? Bisa dong. Gampang aja, semester 7 di S1 dihitung sebagai semester 1 di S2 dan seterusnya. Wah belum skripsi dong? Yak benar sekali. Jadi ketika hectic semester 8 agak bersinergi dengan hecticnya semester 2 dari S2 yang menurut gw adalah semester terberatzzzzz selain semester yang ada thesisnya.
Lalu diakhir semester 8 dan dinyatakan lulus, mata kuliah S2 yang udah diambil sebelumnya tinggal di transfer deh dengan aturan dan jumlah tertentu (gausah dipikirin detailnya nanti bingung sendiri)
Lalu kamu tinggal melanjutkan semester 3 dan 4 seperti biasa, tanpa perlu repot-repot tes SIMAK UI lagi yey! Irit 750ribu formulir pendaftaran! *emak emak pelit*. Jadi kalau dilihat dari tahun angkatan masuk, kuliah S2nya hanya akan ada 2 semester ( 1 dan 2)
Oiya, selain waktunya yang dimerge, bayar kuliahnya pun diskon. Saat masih S1 cukup bayar kuliah seperti biasa. Waktu sudah ganti angkatan ke S2 baru perlu bayar Uang Pangkal dan bayar SPP 2 semester saja. Jadi irit berapa semester pemirsah? 2 semester! Yang kalau dikonversi ke rupiah yaitu irit 16 juta! Hore! Cukup buat berlangganan Tahu Bulat digoreng dadakan sampe mual *masih emak emak pelit*
Terus gimana cara daftarnya? Gampang, waktu semester 5 bakalan ada pendaftarabn. Cukup ajukan berkas dan tunggu pengumuman diterima atau nggak, jangan lupa diskusi dulu sama ortu dan PA. Untuk tahun 2016, syaratnya adalah TOEFL minimal 500 dan IPK 3.50. Selain itu juga perlu isi daftar rancangan IRS kuliah sampai lulus dan rencana penelitian yang kalo bisa sih nyambung sama S1nya.
Rasanya gimana? Seru seru sedap. Berhubung semester 7 gw sudah gabut dimana gw hanya sisa 1 matakuliah dan tidak mengerjakan skripsi karena malas, jadi beban bisa terbagi. Semester 2 adalah semester dengan matakuliah killer plus harus sambil skripsian. Rasanya mantap! Semester 3 jenuh-jenuhnya karena bawaanya pengen liburan atau iseng kerja. Dan tadaaa tau-tau udah semester 4.
Oiya, ndak perlu bahas pro dan kontra langsung kuliah lagi atau kerja dulu ya? Apalagi kalo bandingin sama nikah dulu, nanti jadi iklan pemutih wajah dong yang iklannya cewe nada manja bilang "S2 dulu apa nikah duluuuu yaaaa" :))) (ga nyambung banget itu iklan emang). IMO sih selera masing masing aja dan disesuaikan dengan faktor lain misal internal diri, materi dll aja. Di sini gw hanya membahas sedikit teknis soal program fast track FTUI, non teknisnya mungkin bisa dibahas lain kali. Pun kalau info gw masih kurang jelas *emang* bisa langsung download leaflet/brosurnya di eng.ui.ac.id hehe
Jadi, tertarikkah kamu untuk ikut program akselerasi? Di kampus lain juga ada kok tapi dengan biaya, ketentuan dan sistem yg ga mungkin persis sama dengan UI ya. Makanya, mending di UI aja! *inget, jadi sales* Atau dirasa kurang menantang? Baru baru ini ada versi akselerasi untuk S3 juga lho, S2-S3 dalam 4 tahun saja namanya PMDSU *gamau bayangin* huahaha
Showing posts with label menikah belum lulus kuliah. Show all posts
Showing posts with label menikah belum lulus kuliah. Show all posts
Thursday, 16 June 2016
Saturday, 21 May 2016
Menuju Halal: Mau Nikah Tapi Kok Belum Ini dan Itu
"Wah alhamdulillah mau nikah yah? Tapi bukannya kamu belum ini? Terus calonnya belum itu? Terus nanti gimana?"
Nggak dipungkiri masalah utama bagi (kebanyakan) calon pasangan adalah bukan pada proses nikah melainkan pada embel-embel sebelum pernikahan itu sendiri. Ada laki-laki yang sudah siap menghadap orang tua calon wanita, tetapi kemudian ditolak dengan berbagai alasan. Ataupun sebaliknya, orangtua merasa nggak sreg dengan pilihan dari anak laki lakinya. Mulai dari alasan belum lulus kuliah, belum punya pekerjaan tetap, belum punya rumah, belum punya kendaraan pribadi, tidak boleh melangkahi kakak yang belum menikah hingga karena perbedaan suku bahkan karena perhitungan kecocokan (anak kesatu tidak cocok dengan anak ke sekian, dan sebagainya) *yakin pasti banyak yang ngangguk-ngangguk waktu baca ini*
Kami juga tentu saja tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Izinkan kami curhat sedikit ya, hehe. Keluarga gw berasal dari suku Palembang (Ibu) dan Jawa Timur (Ayah). Keluarga besar gw sebagian besar berada di Sumatera Selatan, tapi kami dari piyik sudah tinggal di Bandar Lampung. Sedangkan sejak 5 tahun lalu gw sendiri berdomisili di Depok, Jawa Barat untuk kuliah.
Sedangkan si Mas, berasal dari suku Bugis (Ibu dan Alm. Ayah) dengan sebagian besar keluarga besar berada di Pinrang, Sulawesi Selatan. Namun dari piyik keluarga si mas sudah di Bekasi. Dan si mas sendiri berdomisi di Yogyakarta, juga untuk kuliah
Ribet yah? Kok bisa aja ketemu sih, Fit? Hehe kalau itusih butuh cerita satu postingan sendiri hahaha. Oke skip.
Kembali lagi ke "permasalahannya". Yak, gw dan si mas sama-sama masih kuliah dan menjalani hubungan spesial LDR selama hampuir 5 tahun hehe. Btw si mas usianya 1 tahun diatas gw, dan kami sama-sama anak pertama. Gw sendiri kuliah S2 semester (insyaAllah) terakhir dan si mas masih kuliah S1. Dan tentu saja kami belum memiliki pekerjaan tetap. Gw pun sedang kejar-kejaran dengan pengerjaan tesis dalam persiapan pernikahan ini.
Lalu apakah gw akan langsung bekerja setelah selesai kuliah? Alhamdulillah, gw mendapatkan suatu kesempatan beasiswa untuk kuliah lagi di negeri orang nun jauh di sana. Pengumuman kepastian keberangkatan baru akan ada di bulan Juli. Sebenarnya ini juga yang mendasari mengapa kami berencana ingin menikah di bulan Juli. Yaitu apabila ternyata gw jadi berangkat, kami sudah sah menjadi suami istri :) . Kalau ternyata nggak jadi? Berarti memang rejekinya deketan terus. Hehe
Karena kenalannya sudah cukup panjang, mari beralih pada "ketidakbiasaan" yang kami miliki hehe. Supaya ga bingung, gw list aja kali yah pertanyaan yang seriiing banget diajuin oleh orang-orang terdekat kami. Walaupun beberapa pertanyaan ada yang nyess tapi kami yakin pertanyaan itu karena mereka sayang sama kami :) So kalau kalian dapat pertanyaan serupa jangan keburu bete duluan yah! So here they are:
Subscribe to:
Posts (Atom)