Google+ Followers

Friday, 27 March 2015

Usia, Kesempatan dan Pilihan

Mungkin memang usia early 20's seperti gue sekarang adalah masa masa paling "rawan". Kalo usia dibawah 20 adalah masa dimana seseorang belum memikirkan sebab akibat akan sesuatu, belum sadar akan resiko, maka di early 20's ini justru lagi sadar-sadarnya sama resiko, itung-itungan atau apalah namanya. Tapi celakanya, makhluk Tuhan di usia ini terlalu ribet mikirin itungan itu sampe ga jadi jadi ambil keputusan, yang sayangnya terkait masa depannya sendiri *ngomong sama kaca, ya kan Ca?*

Masa-masa peralihan. Istilahnya tuh bakal ada beberapa keluaran yang mungkin: ada yg ga sukses move on dari masa remajanya, ada yang setengah mati maksa biar bisa jadi dewasa, ada yang sukses jadi dewasa dan ada juga yang pasrah sama keadaan. Let it flow aja brow.

Tepat seperti yang sedang gue rasakan sekarang. Antara karena memang terlalu jenuh akan rutinitas selama 4 tahun belakangan ini, terlalu bengah mengingat tanggung jawab yang tak kunjung usai, or simply karena memang gue pengecut bahkan untuk menghadapi my own future.

Di satu sisi gue ingin segera menyelesaikan apa yang sudah gue mulai 4 tahun lalu *yang juga gue mulai dengan susah payah* yang kalau diibaratkan tuh seperti cepirit yang udah tinggal ampasnya doang, dikit, tapi tetep aja masih nyisa dan baunya gak ketulungan. Ya, lulus lalu bekerja sebisanya dan sepahamnya, ngumpulin uang sedikit demi sedikit sampe cape, baru mikirin kehidupan selanjutnya. Hambar. Ya, layaknya orang normal aja gitu.

Sisi lain dari diri gue terus menyemangati diri sendiri untuk menyelesaikan hal kedua yang sudah gue mulai setahun yang lalu. Gile bok, tinggal setengahnya lagi. Gitu kalo kata orang-orang. Sehingga kalimatnya akan menjadi menyelesaikan keduanya dengan bahagia. Lalu kabur ke Jepang, ke Australia, ke Belanda kemanalah. Cari selain rupiah atau kuliah lagi pake beasiswa. Meres otak lagi, jadi peneliti kece, pulang ke Indonesia dengan superbangga. Edisi orang jenius.

Sisi yang lain, cuma pengen nemuin sesosok laki-laki yang mengayomi, yang bener-bener bisa nemenin, pulang ke rumah yang sama setelah ketawa-tiwi seharian, ngetawain kebodohan hari itu. Punya anak tiga yang ngences sana sini, nunggu suami pulang dari KRL pepes, tidur dengan genteng bocor, lauk di meja makan cuma tempe goreng, tapi hati bahagia. Tentram. Nyaman. Nggak butuh apa-apa lagi.

Tapi satu sudut hati yang lain, cuma pengen kabur bawa seluruh duit yang dipunya, pergi tanpa tujuan pasti, ke belantara pedalaman dan pulang tiga bulan kemudian dengan uang recehan, muka dekil dan hitam, tapi membawa pulang hati yang hangat. Hangat karena membuat orang lain bahagia dengan "tindakan super sederhana" kita.

Belum dewasakah gue? Ya. Pasti

No comments:

Post a Comment