Tuesday, 14 April 2026

14 April 2026

Pukul 23. Baru saja pulang, cari taman. Tapi tidak ada. Ya, mana ada taman di BSD. Yang mirip pinggir pantai di Ternate katanya, hahah lucu, apalagi pantai. Jadi kami ke The Breeze, parkir, lalu main ludo sambil menghabiskan jajanan. Anak-anak sudah tidur jadi kami bisa pergi berdua saja.


Di kamar, dia memelukku erat 


"Kesayangan aku ini"

"Hehehehe" Aku tersipu malu. Seperti biasanya. Waktu waktu yang banyak dihabiskan untuk membahas anak anak membuatku tetap tersipu malu ketika dia memanjakanku, gestur gestur kecil yang bisa membuat senyum seharian penuh. Walau sudah dua tahun lebih berlalu.

"Jadi mau bangun sahur jam berapa?" Aku melanjutkan pertanyaanku sambil mendongak, masih dalam jangkauan rangkulannya

"Ya jam 3 jam 4 juga gapapa, cuma tinggal menghangatkan nasi gorengnya saja to? Ayang mau bangun?" Dia menunggu konfirmasiku, pandangannya teduh

"Mmmmmmmm.. Iya. Hehhehe" 

Tidak lama kami tertawa bersama. Dia tau sekali, aku susah bangun jam segitu. Makanya dia lebih pilih bungkus nasi goreng malamnya hahaha.


Besok dia harus puasa untuk persiapan MRI :)


Thursday, 11 December 2025

(Hampir) Satu Dasawarsa

 Wooooaaaaaaaw. Its been past 9 years since the last time I posted on this blog.

Terkadang gue masih membuka website blogger ini. Tepatnya bukan terkadang sih, beberapa waktu lalu. Ketika gue menyadari, oh ternyata gue sangat fokus dengan banyak hal di hidup ini sampe gue lupa pada satu hal: gue suka menulis. Mungkin nggak pandai, nggak berbakat. Tapi, gue suka.


Balik lagi pada poin fokus pada banyak hal di hidup ini. Ternyata sudah banyak sekali hal yang gue lalui sejak terakhir kali menulis di sini, soal kuliah fastrack gue yang hampir selesai saat itu, gue dapet beasiswa ke China, dan gue menikah. Yak, memang tahun 2016 rasa-rasanya tahun ter"moncer" gue. Kaya segala "hal" baik datang di hidup gue secara bersamaan. But, siapa yang sangka kan petualangan gue setelah itu, jauuuuuuuh lebih menantang :))))


Secara garis besarnya, sepanjang tahun 2016-2025, gue udah: lulus fast tracknya walaupun hampir nggak; ngejalanin sekolah bahasa satu tahun dan dapat sertifikat HSKnya; cuti kuliah 1 tahun waktu di China dan pulang dulu ke Indonesia, punya anak, total 3 tahun kuliah lagi tapi nggak selesai dan DO waktu musim covid, punya anak lagi, mulai kerja, cerai, kerja pindah-pindah ke tempat yang gue juga ga pernah terbayang sebelumnya, dan ga terasa sudah 2 tahun jalan bareng seseorang yang gue ga nyangka akan gue temui setelah segala keboncosan dalam hidup gue belakangan ini :')


Gue kerja mulai dari di Jakarta, Maluku Utara pindah-pindah kota, out of nowhere pindah ke Afrika Barat bolak balik Ternate, pindah ke Bintan lalu in sort of time stay di Taiwan, dan sekarang di Jakarta lagi.

Dan ohya, gue udah punya rumah sekarang! Allahuakbar!


Rasa-rasanya gue udah ga sabar untuk bisa me-rewind satu demi satu tahapan hidup itu, termasuk cerita-cerita tentang anak-anak yang nggak ada habisnya, dan up and down dalam membesarkan mereka.



Thursday, 16 June 2016

Kelas Akselerasi saat Kuliah, Why Not?

Dalam satu setengah tahun terakhir ini, ketika gw bertemu dengan random people dan ditanya sudah lulus SMA belum? (Oke ini ngaco, tapi emang pernah ada orang khilaf yang nanya begitu *kesenengan*). Maksudnya, orang bertanya "Sudah semester berapa?" Gw cenderung akan menjawab "Semester terakhir" Lalu mereka bertanya lagi "Semester berapa?" Kalau gw sedang malas gw akan jawab semester 8. Tapi kadang gw jawab dg baik dan benar, semester 2, atau semester 4. Lalu pertanyaan lain akan muncul dan panjanglah lagi gw bercerita hahaha.

Oke sebenarnya gw akan jadi sales sedikit di postingan ini. *pasang muka dagang*

Jadi, di UI khususnya di Fakultas Teknik ada program bernama Fast Track. Singkat cerita, itu adalah program semacam aksel kalau di SMA / SMP. Kalo aksel sekolah irit setahun, nah ini juga sama. Jadi kuliah S1 + S2 irit setahun, alias cukup 5 tahun saja. Kok bisa? Bisa dong. Gampang aja, semester 7 di S1 dihitung sebagai semester 1 di S2 dan seterusnya. Wah belum skripsi dong? Yak benar sekali. Jadi ketika hectic semester 8 agak bersinergi dengan hecticnya semester 2 dari S2 yang menurut gw adalah semester terberatzzzzz selain semester yang ada thesisnya.

Lalu diakhir semester 8 dan dinyatakan lulus, mata kuliah S2 yang udah diambil sebelumnya tinggal di transfer deh dengan aturan dan jumlah tertentu (gausah dipikirin detailnya nanti bingung sendiri)
Lalu kamu tinggal melanjutkan semester 3 dan 4 seperti biasa, tanpa perlu repot-repot tes SIMAK UI lagi yey! Irit 750ribu formulir pendaftaran! *emak emak pelit*. Jadi kalau dilihat dari tahun angkatan masuk, kuliah S2nya hanya akan ada 2 semester ( 1 dan 2)

Oiya, selain waktunya yang dimerge, bayar kuliahnya pun diskon. Saat masih S1 cukup bayar kuliah seperti biasa. Waktu sudah ganti angkatan ke S2 baru perlu bayar Uang Pangkal dan bayar SPP 2 semester saja. Jadi irit berapa semester pemirsah? 2 semester! Yang kalau dikonversi ke rupiah yaitu irit 16 juta! Hore! Cukup buat berlangganan Tahu Bulat digoreng dadakan sampe mual *masih emak emak pelit*

Terus gimana cara daftarnya? Gampang, waktu semester 5 bakalan ada pendaftarabn. Cukup ajukan berkas dan tunggu pengumuman diterima atau nggak, jangan lupa diskusi dulu sama ortu dan PA. Untuk tahun 2016, syaratnya adalah TOEFL minimal 500 dan IPK 3.50. Selain itu juga perlu isi daftar rancangan IRS kuliah sampai lulus dan rencana penelitian yang kalo bisa sih nyambung sama S1nya.

Rasanya gimana? Seru seru sedap. Berhubung semester 7 gw sudah gabut dimana gw hanya sisa 1 matakuliah dan tidak mengerjakan skripsi karena malas, jadi beban bisa terbagi. Semester 2 adalah semester dengan matakuliah killer plus harus sambil skripsian. Rasanya mantap! Semester 3 jenuh-jenuhnya karena bawaanya pengen liburan atau iseng kerja. Dan tadaaa tau-tau udah semester 4.

Oiya, ndak perlu bahas pro dan kontra langsung kuliah lagi atau kerja dulu ya? Apalagi kalo bandingin sama nikah dulu, nanti jadi iklan pemutih wajah dong yang iklannya cewe nada manja bilang "S2 dulu apa nikah duluuuu yaaaa" :))) (ga nyambung banget itu iklan emang). IMO sih selera masing masing aja dan disesuaikan dengan faktor lain misal internal diri, materi dll aja. Di sini gw hanya membahas sedikit teknis soal program fast track FTUI, non teknisnya mungkin bisa dibahas lain kali. Pun kalau info gw masih kurang jelas *emang* bisa langsung download leaflet/brosurnya di eng.ui.ac.id hehe

Jadi, tertarikkah kamu untuk ikut program akselerasi? Di kampus lain juga ada kok tapi dengan biaya, ketentuan dan sistem yg ga mungkin persis sama dengan UI ya. Makanya, mending di UI aja! *inget, jadi sales* Atau dirasa kurang menantang? Baru baru ini ada versi akselerasi untuk S3 juga lho, S2-S3 dalam 4 tahun saja namanya PMDSU *gamau bayangin* huahaha

Cerita Beasiswa: China, Salju, dan Toiletnya

Sebenarnya gw bukan orang yg punya target untuk mendapatkan beasiswa kuliah master di luar negeri. Setidaknya untuk dekat-dekat ini. Dulu sih, pernah minat sama LPDP, tapi begitu tau LPDP ga mengizinkan awardeenya yg sudah S2 untuk apply S2 lagi, gw langsung jadi males (walaupun waktu nulis ini ya gw masih S1 sih hehe)

Sejak masuk semester 8, makin banyak aja teman-teman khususnya satu departemen yang menjadi awardee LPDP. Lha pada makan apa yak kok kayanya gampang banget. Kekepoan itupun muncul kembali waktu gw semester 4 kuliah S2. Hal itu karena temen satu circle kami, Ani, sangat getol dan gigih untuk apply beasiswa. Les di pare berbulan-bulan, dan segala macam aplikasi beasiswa sudah dilahapnya.

Suatu hari, ada postingan yang seliweran (gw lupa dimana) tentang Beasiswa Pemerintah China. Tanpa pikir panjang gwpun langsung mengcopas info itu ke Ani. Ani yang kayanya juga lagi lelah sama segala macem aplikasi beasiswa (April memang deadlinenya berbagai beasiswa) terlihat kurang tertarik dan bilang bahwa ia akan daftar kalau gw daftar dan anipun bilang kayanya belum banyak yang tau beasiswa china sehingga kemungkinannya akan lebih besar.

Gw memang punya mimpi cukup dalam untuk bisa tinggal/menetap di negara lain. Nggak harus kuliah tapi bisa juga kerja profesional, volunteer maupun casual work (contohnya dengan work and holiday visa australia). Ya nggak harus eropa sih, tapi kalau kebetulan 4 musim ya itu beneran mimpi kewujud banget. Dari dulu gw selalu suka blogwalking secara random ke blog blog para perantau. Lalu pas ngetrend blog mamasejagad / semacam blog mamarantau makin gemarlah gw membaca cerita-cerita mereka. Sampe sekarang pun, instagram gw banyak memfollow orang Indonesia yang tinggal di luar negeri terutama yg bersama keluarganya baik untuk kerja, kuliah maupun volunteer.

Tapi China? Ya ampun. Nggak pernah kepikiran! Ngebayangin bahasa dengan 4 nadanya aja udah mumet. Belum lagi paradigma mainstream tentag China yang kebanyakan kurang baik. Tapi ternyata, setelah gw menelaah lebih lanjut (sailah) ternyata banyak hal (awam) yang belum gw ketahui

1. China adalah negara dengan 4 musim. Yaps pasti ada aja yang nanya "emang di China ada salju?". Ada banget. Apalagi di China bagian utara yg saljuan banget (hahaha bingung ngomongnya) karena udah deket sama Rusia. Salah satu daerah yg terkenal dengan saljunya yaitu Harbin

2. China memiliki banyak sekali universitas dan beberapa diantaranya adalah universitas top dunia contohnya Beijing university, Fudan university, tsinghua university dan lain lain. Dan banyak kampus yang menawarkan pembelajaran bahasa inggris penuh alias "English taught". Huahahaha walaupun bahasa inggris gw acakadut tapi setidaknya aman lah ya nggak belajar pake tulisan antah berantah *jiper bayanginnya*

3. Dengan berada di China setidaknya gw akan terpush untuk bisa berbahasa Mandarin to. Satu nilai plus dibanding kuliah di negara berbahasa Inggris. Bisa belajar dan langsung latihan gratis di tempatnya langsung. Jadi inget kata kata lao shi (guru) les bahasa mandarin gw waktu SMP "Dari 4 orang di dunia, 1nya adalah Chinese". Apalagi gw punya passion di dagang berdagang. Wuih langsung kebayang ngimpor barang barang murah ajaib dari China terus ongkang-ongkang kaki di pelabuhan Tanjung Priok! :))

4. Banyak orang dari berbagai negara bercampur di China. Banyak pelajar terutama dari Asia Timur bahkan Eropa yang kuliah khususnya dengan beasiswa dari pemerintah China. Hayo siapa yang mikir satu China isinya cuma orang chinese doang? *tunjuk tangan*

Tapi selain beberapa poin di atas ternyata ada juga poin yang bikin rada brigidik bulu romaku huahaha

1. China dikenal dengan negara jorok. Terutama toiletnya. Kalau kata temen yg udah kuliah di Shanghai, makin desa makin jorok. Makin ke utara makin dingin dan susah air. Penasaran segimana joroknya? Googling sendiri ya, gw gatega jelasinnya! :))

2. Persaingan cukup ketat termasuk soal akademik. Mungkin karena manusianya banyak kali ya, jadi musti survive gitu. Oh iya, untuk program master di China rata-rata durasinya 3 tahun. Kalau untuk Doktor 3-4 tahun. Iya, jangan bandingin dengan Inggris yang cuma setahun :))

Untuk sementara itu dulu jebakan betmen yg bisa ditulis, kalo kebanyakan nanti keburu jiper dong! :)) Btw apakah akhirnya gw mendaftar Beasiswa Chinanya? Dan apa aja persyaratannya? Nyambung di post berikutnya yah!


Menuju Halal: Nano Nano Rasanya

Pernah dengar cerita ibu tetangga yang lagi pusing ngurusin lamaran anaknya? Atau curhatan teman sekelas/sekantor yang ngeluh cape karena ngurusin perintilan nikahan kakaknya?

Kebayang gak kalau kita sendiri yang di posisi itu? Iya kita yg nikah. Ibu dan adik kita sendiri yang pusing.

Lho kalo gitu calon mantennya enak-enakan aja ya. Banyak yg bilang gitu sih. Tapi setelah gw mengalami sendiri gw merasa, mungkin saat hari H gw udah ga ngurus ini itu (mungkin lho) ya secara gw cuma dipajang di pelaminan (tapi siapa juga yg tau sebenarnya kepala gw cenut cenut khawatir makanan cukup apa enggak? Enak apa enggak? Dan sebagainya dan sebagainya.)

Menurut gw, menikah itu, baik seribet apapun maupun sesederhana apapun acaranya pasti akan ada proses di dalamnya. Dan proses selalu berkaitan erat dengan halang dan rintang. Kalo ga ada usaha, halang dan rintang namanya instan dong ya bu. Indomie kali, indomie aja harus direbus dulu. Oke skip

Oke mari kita perluas lagi dari konteks proses pernikahan. Kalo gitu kesannya hanya pada acara weddingnya saja. Tapi sebenarnya kan itu lebih secara menyeluruh. Proses menggenapkan separuh agama, penemuan tulang rusuk yang hilang, mitsaqon ghazilan, perjanjian yang menggetarkan bumi dan seluruh isinya, ikatan suci dua insan manusia, elehembre elehembre.

Kalo gitu gimana rasanya fit? Lu kan keliatan santai santai aja tuh. Lu nya ga ngurusin ya?

Hmmm. Bohong kalo gw bilang gw santai santai aja. Bohong kalo gw bilang gw tinggal ngikut aja. Ya walaupun basically gw lebih ke arah pasrah karena keterbatasan gw dan si mas dalam jarak dan waktu. Juga kapasitas orangtua kita sebagai pemegang tahta kepengurusan. Gw dan di mas beda kota. Ibunya si mas single parent, beda kota sama kita. Ibu gw beda kota sama kita. Bapak gw juga beda kota sama kita dan ibu. Aaaah ribet.

Kalo mau diambil cuek sebenarnya pengen, tapi maaaan, cmon ini lu mau kawin loh. Lu mau bareng, tinggal, ngejalanin sisa hidup lu sama satu orang doang. Bakalan punya anak, punya keluarga baru, hidup mandiri, dan surga lu bakal berpindah ke seorang anak manusia!

Nangis, marah, sedih, ragu, kecewa adalah rasa rasa wajar yang pasti bakalan mampir. Yaelah pacaran monyetmonyetan aja bisa begitu apalagi mau kawin yakan. Not to mention rasa lega, takjub, seneng, bahagia, excited yang juga mampir sih. Rasa percaya nggak percaya ada laki-laki yang dengan segala keterbatasannya meminta elu buat jadi pasangan hidupnya. Milih elu woy, bukan orang lain. Dan ajaibnya, lu mau aja, gitu!

Bakalan banyak banget kejadian ga terduga. Mulai dari yg katanya bakalan muncul keraguan-keraguan dari calon mempelai. Kaya orang masa lalu yang tiba-tiba datang atau apalah. Thank God jarak dari deal ke hari H gw ga lama *kibar bendera putih*.

Belum lagi pihak pihak sekitar yang tadinya support dan restu bisa tiba tiba aja berubah pikiran, jadi berat, eh restu lagi, eh berat lagi. Belum lagi godaan eksternal nan duniawi. Tiba-tiba ada kerjaan lah, tiba-tiba urusan kuliah ribet banget lah. Mau netapin tanggal tapi gonta ganti lah. Udah deket hari H masih ganti lah. Ada yang maunya kepentingannya didahuluin lah. Ada yang nyinyirin begini begitu. Vendor (cailah vendor) yang mencla mencle lah gabisa diajak kerjasama.

Apalagi waktu lagi sensitif dan cape karena perihal lain, rasanya kaya ga ada tempat buat cerita, kaya ga ada bahu yang bisa nopang, kaya ga ada tangan yang bantu bertahan. Like you just wanna scream out "OMG I just want to pass this". Sedikiiiiit aja masalah atau ketidakberesan bisa jadi boooom!

Intinya apa nih fit?

Sebenarnya ga ada intinya sih. Cuma mau curhat gapenting aja hahahaha. Sama mau bilang, kalo ada yang bilang orang mau nikah itu auranya beda lah, senyum senyum teruslah, weeeek kagak bener. Jadi yg mau nikah jangan expect kebanyakan whahahahaha. Bersiap siaplah akan terkurasnya tenaga, hati dan pikiran. Yakinkah diri bahwa benar benar siap, bukan hanya ingin. Karena kalau ingin doang mah, semua juga ingin 😂😂.
Karena ga selamanya suatu hal itu sama persis dengan ekspektasi kita. Kita cuma bisa usaha, doa, dan yakin yakin yakin. Kurangin ego pribadi terutama ke orang tua, percaya sama pasangan dan jangan gengsi minta maaf and let God do the rest!

Saturday, 21 May 2016

Menuju Halal: Mau Nikah Tapi Kok Belum Ini dan Itu

"Wah alhamdulillah mau nikah yah? Tapi bukannya kamu belum ini? Terus calonnya belum itu? Terus nanti gimana?"

Nggak dipungkiri masalah utama bagi (kebanyakan) calon pasangan adalah bukan pada proses nikah melainkan pada embel-embel sebelum pernikahan itu sendiri. Ada laki-laki yang sudah siap menghadap orang tua calon wanita, tetapi kemudian ditolak dengan berbagai alasan. Ataupun sebaliknya, orangtua merasa nggak sreg dengan pilihan dari anak laki lakinya. Mulai dari alasan belum lulus kuliah, belum punya pekerjaan tetap, belum punya rumah, belum punya kendaraan pribadi, tidak boleh melangkahi kakak yang belum menikah hingga karena perbedaan suku bahkan karena perhitungan kecocokan (anak kesatu tidak cocok dengan anak ke sekian, dan sebagainya) *yakin pasti banyak yang ngangguk-ngangguk waktu baca ini*

Kami juga tentu saja tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Izinkan kami curhat sedikit ya, hehe. Keluarga gw berasal dari suku Palembang (Ibu) dan Jawa Timur (Ayah). Keluarga besar gw sebagian besar berada di Sumatera Selatan, tapi kami dari piyik sudah tinggal di Bandar Lampung. Sedangkan sejak 5 tahun lalu gw sendiri berdomisili di Depok, Jawa Barat untuk kuliah.

Sedangkan si Mas, berasal dari suku Bugis (Ibu dan Alm. Ayah) dengan sebagian besar keluarga besar berada di Pinrang, Sulawesi Selatan. Namun dari piyik keluarga si mas sudah di Bekasi. Dan si mas sendiri berdomisi di Yogyakarta, juga untuk kuliah

Ribet yah? Kok bisa aja ketemu sih, Fit? Hehe kalau itusih butuh cerita satu postingan sendiri hahaha. Oke skip.

Kembali lagi ke "permasalahannya". Yak, gw dan si mas sama-sama masih kuliah dan menjalani hubungan spesial LDR selama hampuir 5 tahun hehe. Btw si mas usianya 1 tahun diatas gw, dan kami sama-sama anak pertama. Gw sendiri kuliah S2 semester (insyaAllah) terakhir dan si mas masih kuliah S1. Dan tentu saja kami belum memiliki pekerjaan tetap. Gw pun sedang kejar-kejaran dengan pengerjaan tesis dalam persiapan pernikahan ini. 

Lalu apakah gw akan langsung bekerja setelah selesai kuliah? Alhamdulillah, gw mendapatkan suatu kesempatan beasiswa untuk kuliah lagi di negeri orang nun jauh di sana. Pengumuman kepastian keberangkatan baru akan ada di bulan Juli. Sebenarnya ini juga yang mendasari mengapa kami berencana ingin menikah di bulan Juli. Yaitu apabila ternyata gw jadi berangkat, kami sudah sah menjadi suami istri :) . Kalau ternyata nggak jadi? Berarti memang rejekinya deketan terus. Hehe

Karena kenalannya sudah cukup panjang, mari beralih pada "ketidakbiasaan" yang kami miliki hehe. Supaya ga bingung, gw list aja kali yah pertanyaan yang seriiing banget diajuin oleh orang-orang terdekat kami. Walaupun beberapa pertanyaan ada yang nyess tapi kami yakin pertanyaan itu karena mereka sayang sama kami :) So kalau kalian dapat pertanyaan serupa jangan keburu bete duluan yah! So here they are:

Sunday, 15 May 2016

Menuju Halal: Persiapan Acara Pernikahan dengan Anggaran Terbatas



She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter

Entah kenapa saat gw menulis ini saat pengamen biola kesukaan gw pas banget membawakan lagunya Brian McKnight ini hehehe jadi senyum-senyum sendiri.

Alhamdulillah jadi insya Allah gw dan si mas akan menikah dalam waktu dekat! Lumayan deg-deg ser juga sih karena persiapannya baru di mulai H-2 bulan lebih dikit! Ga takut pamali Fit nulis hal yang “belum kejadian”? Gw mikirnya sih daripada nulisnya nanti-nanti malahan keburu males jadi dicicil aja dulu

Sebenernya keinginan menulis ini karena jujur kami sangat terbantu dengan orang orang yang menuliskan pengalaman persiapan pernikahannya dari A-Z. Sayangnya banyak dari tulisan tersebut yang enggan untuk membuka  secara gamblang masalah rincian biaya dengan alasan privasi. 

Padahaaaaaaal salah satu masalah terbesar dalam niat pelaksanaan pernikahan itu masalah biaya, hayo siapa yg setuju? Hehe. Hayo siapa yang suka googling dengan keyword “Persiapan resepsi sederhana” “Tips resepsi hemat biaya” “Resepsi dengan sekian sekian juta” “Walimahan di rumah” *angkat tangan tinggi tinggi*

Thursday, 4 February 2016

Kalau ada satu hal yg ingiiin sekali bisa terwujud di tahun ini, pasti adalah: menyederhanakn hidup dan syarat bahagia

Sunday, 24 May 2015

Her Day


23rd of May is her birthday, she looks so happy posing beside her loved one :))

Tuesday, 28 April 2015

(Langsung) Sekolah Lagi?

"gue bingung ini thesis.."
deg.

kalimat yang meluncur dari percakapan dengan seorang teman sekelas mendadak memutar kran ingatan gue. Pusingnya skripsi yang miris ini tiba-tiba bertumbukan sama kenyataan kalau ada yang harus gue mulai juga. Sisa dua semester lagi untuk menyelesaikan masa studi normal program magister. Dan gue sudah harus memikirkan akan dibawa kemana thesis gue nantinya.

Ahhh.. Banyak orang yang mendukung untuk langsung melanjutkan kembali studi. Dengan pertimbangan "semangat yang masih menyala" dan yang paling klise "mumpung belum kenal uang". Dan dalam konteks yang lebih spesifik, sebagai seorang perempuan; bahwa anak-anak cerdas lahir dari ibu yang cerdas, dan ibu yang cerdas sudah mempersiapkan bekal pendidikan anak-anaknya jauh sebelum ia lahir. Orang tua gue sendiri lebih condong pada alasan yang kurang lebih merangkum beberapa poin "nanggung, dan mumpung". Mumpung ada kesempatan, mumpung dana ada, mumpung masih muda, dan mumpung mumpung yang lain.

Saturday, 25 April 2015

Pengalaman Mendaftar JLPT: Mengisi Formulir

Tanggal 10 April yang lalu adalah batas akhir pendaftaran JLPT untuk tes tanggal 5 July 2015. Dan ini adalah pertama kali gue (akan) mengikuti tes ini. Huah serem! Mmmm, JLPT?

APASIH JLPT itu?
JLPT adalah kepanjangan dari Japanese Language Proficiency Test, atau dalam bahasa asalnya Nihongo Nouryoku Shiken atau singkatnya adalah TOEFLnya versi Jepang. Nah yang membedakan adalah kalau ketika ikut TOEFL kita akan dapat sertifikat "gimanapun" hasil test kita yaitu berupa angka, untuk JLPT ini kita diharuskan untuk memilih "level mana" yang mau kita ambil, dan hasil yang didapat adalah "PASS" atau "FAIL". Levelnya adalah N1 (paling sulit) hingga N5 (paling mudah)

DIMANA KALAU MAU IKUT?
Ujian ini tidak bisa "sembarangan" diikuti, karena untuk penyelenggaraan diluar Jepang, di handle oleh The Japan Foundation yang terdapat diberbagai kota di dunia. Singkat kata, kita bisa ikut kalo ada yang nyelenggarain. Nah, kebetulan, bulan July ini, Unviversitas Dharma Persada nyelenggarain jadi gue bisa ikutan deh

GIMANA CARA DAFTARNYA?
Tanggal 10 kemarin, gue langsung datang ke Universitas Dharma Persada di Raden Inten (sekitaran Buaran) dengan membawa formulir pendaftaran yang sudah dibawakan sebelumnya oleh temen gue (kolektif). Tapi kalo mau beli disini langsung juga bisa, harganya 15 ribu rupiah. Formulir yang udah diisi lengkap kemudian dikumpulkan dan kita diharuskan untuk membayar biaya pendaftaran (70 ribu hingga 100ribu tergantung level). Karena gue ikut yang N5, gue cukup bayar 70ribu. Oiya, gue juga ngebeliin buat temen gue sekalian ngisiin, jadi untuk seluruh rangkaian pendaftaran bisa diwakilkan. Setelah bayar, kita disuruh tunggu kartu ujian datang ke alamat kita. Kece!

SUSAH NGGAK NGISI FORMULIRNYA?
Formulir pendaftarannya sendiri adalah formulir 3 rangkap yang harus diisi sesuai buku petunjuk yang udah sepaket sama formulir yang kita beli. Tenang aja, kualitas kertas rangkap (karbon)nya bagus, nggak kaya di kita yang suka nyiplak nyiplak kotor. Petunjuknya buanyaaaak dan sebenernya sistematis, tapi berhubung di Indonesia gue rasa nggak pernah "se sistematis" itu jadinya malahan bingung pas mau ngisi. Petunjuknya pun dalam bahasa Jepang pang pang, tapi juga ada petunjuk bahasa Inggrisnya. Saran gue, baca dan bolak balik dulu seluruh petunjuknya barulah mulai ngisi. Dan PERHATIKAN ANGKA INDEKS PENGISIAN dan cocokkan dengan petunjuk

Ada section yang menanyakan, apakah kita sudah pernah belajar bahasa jepang, sehari-hari hubungan bahasa jepangnya gimana, apa pekerjaan kita, kenapa ikut JLPT dan sebagainya. Nah cara jawabnya adalah mengisi angka yang sesuai dengan yang ada dibuku petunjuk, misal untuk jawaban "mengikuti JLPT untuk keperluan studi ke Jepang" ditulis dengan angka 6. Pengalaman gue waktu ngisi formulir, gue masih ketuker di bagian occupation dan occupation details, alhasil gue panik (takut 15ribu gue melayang hahaha)

Rupanya, setelah gue tanya ke mbak-mbak di Unsada, bagian yang salah cukup DITIP-EX saja saudara saudara dan diisi ulang! Hahaha uang gue nggak jadi melayang :p
Oiya untuk pengisiannya hurufnya pun harus jelas dan sesuai standar, jangan lupa mengisi alamat domisili kita karena nanti kartu ujian akan langsung dikirim ke alamat tersebut. Dan jangan lupa juga untuk menyertakan  dua lembar foto 3x4 yang ditempel di formulir. Selain itu, kita harus inget sama "password" yang kita "buat sendiri" di formulir pendaftaran. Password ini berguna untuk melihat hasil ujian nanti.

Akhir kata, begitulah pengalaman gue dalam mendaftar JLPT, untuk tahap selanjutnya InsyaAllah akan gue update lagi disini! :)


Friday, 24 April 2015

Mengalahkan Rasa Takut

Rasa takut? Setiap orang pasti memiliki rasa takut yang sadar tidak sadar ada dalam dirinya. Baik itu takut karena sudah pernah mencoba dan ternyata membuat trauma, ataupun takut yang nggak pernah nyoba tapi kata orang sih nakutin, jadi ya takut aja gitu.
Begitupula gue, walaupun kebanyakan orang melihat gue sebagai orang yang berani, cenderung nekat dan easygoing dalam artian mudah ngapa-ngapain, sebenarnya ada banyak hal yang gue takuti.

Salah satunya, gue takut naik gunung.

Sepele?

Gue juga nggak ngerti darimana asalnya rasa takut itu berasal. Yang jelas, I simply cant imagine myself in a forest, following the pathway to reach the peak of a mountain. Besar, luas, dan nggak tau bakalan ada apa aja di dalamnya. Takut kedinginan, takut nyasar, takut nggak nyampe, takut ketinggalan rombongan, bahkan takut sama yang enggak enggak.

Hingga akhirnya gue lupa akan segala reason reason  gue itu. Di suatu malam, gue memutuskan untuk naik gunung (yang sebenernya "rendah" mungkin level sebenarnya adalah bukit) dengan atau tanpa teman (Luckily, Lina was going with me).
Gunung bongkok, di desa Cikadang, Purwakarta.

Gue memulai langkah gue dengan berjuta pikiran yang berkecamuk, tapi yang jelas kaki gue tetap mantap melangkah. Gue merasa seperti, inilah saatnya. Beating my own self is a must, no compromise anymore. Then I kept pushing my limits, dan entah sial atau beruntung, "gunung" yang gue sambangi rupanya punya trek yang bagi pendaki lain yang sudah biasa pun tergolong "waw". Dengan nafas yang udah maksa banget, apalagi sendi lutut yang nggak pernah diajak olahraga akhirnya berhasil membawa gue ke puncak, even I consider the peak as a bonus. Ya, gue berhasil mengalahkan diri gue sendiri. Gue menang.

Bahkan beberapa hari setelahnya gue berani memulai "perjalanan" perdana gue, sendirian, hingga ke puncak gunung api purba nglanggeran. Dan gue semakin sadar, semakin "bisa" dan semakin hilang rasa takut gue, disitulah kewaspadaan meningkat dan kesombongan itu menurun.

Jadi, bagaimana rasanya mengalahkan rasa takut?
Sulit? Ya
Worth to try? Definitely yes.
  



A Gift For Her

Tahun ini, gue tidak membawakan kue dan lilin untuk adik si mas seperti tahun lalu karena lagi giliran si mas yang dapet kunjungan hehehe (mudah-mudahan ga cemburu :p). Lagian, mama ada ada aja, kok bisa-bisanya punya anak dua lahirnya barengan, sama sama 11 April :D

So, setelah ngaret berhari-hari karena mengurus ini itu, akhirnya pilihan kado ulangtahun jatuh kepadaaaaaa.....


Kirain ga se pink ini juga :))

Hehehe pink banget! Beberapa saat belakangan ini memang gue memerhatikan bahwa sepatu sandal kesayangan si adik memang udah agak jebol, jadi pengennya nyariin sepatu aja yang modelnya simple dan dari beberapa pilihan si mas milih yang pink hahahaha. Sempet deg-degan juga karena belinya online, takut ga muat atau ga sesuai ekspektasi. Alhamdulillah pengiriman dari zaloranya cepet jadi bisa langsung kasih :D

Si mas ngirimin ini ke WA hihihi

Senengnya dibilang 'makasih love you ka fitri :* :*' hahaha pasti si mas iri hahaha. Ditelpon juga mama cerita, dia memang udah pengen beli sepatu eh pas pulang udah make sepatu baru terus cerita itu dari ka fitri. Hahahah puas banget "ngerjain" biar jadi cewek :p (kata-katanya si mas)

Mungkin memang hanya benda kecil. Tapi inilah wujud rasa terimakasih gue, atas perhatian yang si adik berikan pada waktu yang lalu. Untuk waktu yang dia sediakan untuk mencarikan gue kado untuk ulangtahun gue, sekedar ke mall dan minta temenin temennya, waktu untuk membungkus kado bahkan sempet-sempetnya ngasih hiasan didepannya, kerelaannya menyisihkan uang jajannya untuk gue :) Makasih, sekali lagi selamat ulangtahun Dian sayang :)

Tuesday, 14 April 2015

Jadi anak mama itu..




Harus sadar siapa yang menciptakan kita, yang ngasih semua rezeki untuk kita. Mama itu, nggak pernah absen ngaji, selalu shalat dhuha dan tahajudnya nggak pernah bolong. Nggak pernah lupa pake hijabnya walaupun di dalam rumah.

Harus mau belajar masak. Setiap masakan mama itu, rasanya pasti enak. Bikin kue juga jago. Harus juga bisa masak menu ikan, karena mama dan keluarga besar doyan banget makan ikan.

Harus rajin. Rumah mama selalu rapi dan bersih. Nggak pernah berantakan.

Harus sabar dan pengertian. Mama nggak pernah marah sama anak-anaknya. Nggak pernah ngomong kasar atau curigaan sama anak-anaknya. Lembut dan mengayomi.

Harus mandiri. Di usianya yang nggak lagi muda, mama nggak bergantung sama orang lain, nggak pernah nyusahin orang lain.

Harus punya pengetahuan luas. Dari mulai politikus, tokoh agama sampe karier artis, mama pasti tau. Jadi harus banyak usaha supaya bisa nyambung ngobrol sama mama.

Dan yang nggak kalah penting...

Harus sayang sama anaknya, apa adanya. Seperti mama yang selalu sayang sama anak-anaknya dengan sepenuh hati.

Masih harus belajar banyak. Sama-sama, pasti bisa :”)

Saturday, 11 April 2015

Wednesday, 1 April 2015

Gara Gara Sakit

Sedari kecil, gue selalu didaulat (oleh nyokap) sebagai anak yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah sakit. Bertolak belakang sama adek gue yang cowo, dikit dikit sakit, dikit dikit bolos. Konon katanya, kebalnya tubuh gue karena waktu piyik gue adalah ATM sejati alias Anak Tete Mamak hahahaha. Bahkan kata nyokap, setelah disapih pun gue dulu gak doyan susu formula, jadi emak gue merasa amat diuntungkan. Fix banget bakalan gue contoh pas udah jadi emak emak nanti (demi irit, irit beli susu plus irit bawa anak ke dokter) hahaha

Sayangnya, ketika gue sakit gue jadi merasa amat menderita. Padahal sakitnya cuma menye-menye yaitu: flu!
Seminggu terakhir penyakit sejuta umat ini mampir dengan suksesnya ke gue. Mampirnya gak pake assalammualaikum pula! Senin malam ke selasa pagi, gue merasa hidung gue agak nggak enak sebelah plus badan yg agak ngefly dikit tapi gue masih tralala trilili dengan ceria. Selasa sore pilek langsung melanda dengan buasnya plus bersin keras berkali kali dan sering (sampe ke kampus pake masker di kelas), dan selasa malam badan langsung panas dan sukses tepar hingga keesokan harinya pun masih anget!

Ketidak-fit-an itupun berlanjut dengan indahnya. Hidung yang udah kaya keran bocor, stoknya gak abis abis. Tisu berhamburan dimana-mana. Bener-bener nggak abis abis stok cairan yg terjadi karena bakteri (apa virus?:)))) itu! Hari-hari berlalu, badan emang udah ga pernah panas lagi, tapi jadi gak kuat beraktifitas terlalu lama. Jalan, ngerjain tugas, kuliah, bahkan makan! Gue merasa gagal abis, makan aja cape cobaaa. Dada deg degan, kepala pusing, kaki kaya mau runtuh, dan badan ngefly, bikin mikir dua kali kalo mau aktifitas lebih. Sampe tadi gue ngajar di shift ke dua pun badan gue masih terasa agak error karena sebelumnya beraktifitas.

Pekerjaan dan rencana pun semuanya terbengkalai. Untungnya rencana ke rumah mama masih terlaksana (curiga ketularan masnya karena doi sakit pas gue ke sana), rencana interview SIB school of language di hari selasa batal (padahal karena gue jiper sih ahahah), tawaran ngajar mendadak di hari selasa juga gue tolak. Jadwal ngajar hari rabu juga terpaksa batal karena gue gak mau maksain. Tes psikologi TRAC Astra hari jumat juga batal (kata nyokap gausah aja dulu, tapi bener juga sih gak kebayang kalo harus bawa motor pagi buta macetan sampe rawamangun). Rencana nganter masnya ke pool bis hari minggu juga batal (padahal kangen). Untungnya masih bisa ikut Tes kanji hari Kamis, UTS Komtek hari senin dengan bunyibunyian sroot srooot sepanjang ujian plus supichi hari senin juga.

Huaaaaah rasanya ga enak banget! Berhubung gue jarang keluar seminggu ini, gue baru sadar bahwa orang-orang di bimbel juga pada sakit yang sama, bahkan mas mas warteg langganan gue juga sakit model gini. Hahahaahaha. Intinya, jagalah kesehatanmu sebelum sakit melanda, tapi kalo modelnya pasaran begini, mending banyak-banyak berdoa biar ga keikutan kena!

Kalo ditanya, kok gak ke dokter, klinik kampus atau minum obat warung? Simpel, gue gak berani lagi minum obat warung karena ga jelas; gak punya budget buat ke dokter; tapi terlalu bete kalo inget kesuperjutekan ibu ibu yang jaga loket klinik kampus!

Pendaftaran Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2015: Kab. Siak

[Reminder]
H-2 PENUTUPAN PENDAFTARAN
KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS INDONESIA (K2NUI) 2015

Direktorat Kemahasiswaan Universitas Indonesia memanggil putra-putri terbaik UI untuk turut berperan mengaplikasikan ilmunya dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia (K2N UI) tahun 2015 dengan tema "Bersama Masyarakat Memberi Manfaat".

K2N UI 2015 akan diselenggarakan di Kota Depok, Kabupaten Bogor,  dan Kabupaten Siak.
Pendaftaran mulai tanggal 09 Maret s.d 02 April 2015.

Pelaksanaan Juli-Agustus 2015, Bobot 3 SKS

Persyaratan Peserta:
1. Mahasiswa Aktif UI Program Vokasi dan S1
2. Telah memperoleh minimal 50 SKS
3. IPK minimal 3,0
4. Berbadan sehat
5. Tidak mengambil mata kuliah lain di semester pendek 2014/2015 selain K2N UI
6. Bebas narkoba dan tidak merokok
7. Mendapatkan izin Orangtua

Segera daftarkan dirimu. Silahkan unduh berkas pendaftaran di http://bit.ly/k2nui2015

Kumpulkan berkas persyaratan ke Sub Direktorat Olahraga dan Kepedulian pada Masyarakat, Senin-Jumat pada jam kerja.

Informasi lebih lanjut
Telp/SMS/WA : Risma 0813-8924-9524
twitter : @k2nui
email : k2nui15@gmail.com
alamat : Sub Direktorat Olahraga dan Kepedulian pada Masyarakat, Gedung PPMT Lantai 1

Sunday, 29 March 2015

Belajar Langsung dari Orang Jepang

Sebelumnya, gue udah nyeritain lika liku gue dalam belajar bahasa jepang, lebih tepatnya tentang manfaat yang didapat. Yak, tanpa disadari, gue bisa dapet kesempatan "belajar toto kromo dan tete bengeknya" dari orang jepang langsung which is guru gue di kelas. 

Oiya, rupanya, di kelas kita tidak diinstruksikan untuk memanggil pengajar dengan sebutan "sensei" melaikan hanya memanggil nama dan tentu saja ditambah san dibelakangnya. Rupanya, untuk di jepang sendiri, sensei lebih mengacu pada guru formal dan dokter atau yang memiliki keahlian khusus lain.



Guru yang mengajar kami sehari-hari ada dua orang yang bergantian masing-masing sekitar 1 setengah jam. Felix san, mungkin umurnya hanya beberapa tahun diatas kita. Konon katanya sudah 6 tahun terakhir di Jepang untuk sekolah dan bekerja, tapi rumah sih bogor. Jadilah beliau ini yang ngajarin tenses kita, mungkin karena kemampuan bahasa beliau imbang, Indonesia dan Jepang. 

Yang kedua yaitu Sakamaki san, beliau ini kelihatannya sudah lebih dewasa. Asli Jepang, ngekos di Kutek, sisanya enggak tau lagi karena nggak berani nanya. Takut bo, kan orang luar pasti nggak kaya orang Indonesia yang bisa kita tanya seenak udel. Beliau ini bahasa Indonesianya masih campur-campur alias nggak begitu lancar, tapi udah lumayan bagus buat orang asing, jadilah beliau yang menjadi pendamping kami terkait latihan-latihan, intinya yang nggak perlu bahasa Indonesia terlalu panjang. Nah dari beliau inilah gue bisa melihat “etos-etos” kerja dan berkehidupannya orang Jepang.

·         Amat tepat waktu
Beberapa kali gue melihat contoh langsung dari hal ini. Beliau akan datang pada jamnya seharusnya datang dengan tepat tanpa terlambat semenit pun. Kalo kecepetan sih, sering. Pernah suatu kali, jam mengajar Felix san sudah habis, tapi Felix san masih di dalam kelas dan terus mengajar. Sakamaki san hajar aja tuh masuk kelas dan “negor” felix san. Felix san merasa jamnya belum habis. “Berantem” lah mereka soal sekarang jam berapa. Rupanya jam tangan felix san yang kelambatan. Hahahaha. Coba kalo di Indonesia, ngeliat guru sebelumnya masih asyik ngajar pasti (ya kebanyakan lah) guru setelahnya bakalan diem aja malah asik jamnya molor berarti waktu kerjanya berkurang. Hehehe

·         Kerja dengan sistematis
Sistem yang diberikan untuk sesi latihan ini nggak melulu dengan ngisi soal dibuku, tapi juga dengan latihan tanya jawab dengan teman, mengulang kosakata dengan gambar, mengulang membuat kalimat secara langsung, mengulang membaca kanji, bahkan dengan main game. Dengan berbagai jenis latihan itu, semua bisa dipenuhi dalam waktu yang telah ditentukan, 1 jam 30 menit, setiap sesi jenis latihan sudah dirinci berapa menit menitnya. Nggak ada yang ketinggalan atau “sisanya besok ajadeh” atau “belum buuuuu” kaya kita biasanya.

·         Konsisten pada peraturan
Kondisi pintu kelas kami memang udah nggak bisa ditutup terlalu rapat lagi. Sakamaki san memang pernah bilang, semua yang masuk harus menutup pintu kembali. Suatu saat, di tengah pelajaran, pintu terbuka. Sakamaki san menyuruh untuk menutup. Refleks yang paling deket sama pintu bangun dong untuk nutup, lalu Sakamaki san melarang dan bilang, harus ngaku siapa yang terakhir masuk dan dia pulalah yang harus menutupnya (padahal emang karena kebuka sendiri). Wow. Sejak saat itu, kita selalu ganjel pintu dengan kursi biar nggak salah paham lagi.
Pernah juga di awal awal ada yang kena tegur karena ngeliat kebawah terus yang rupanya ada hp, beliau bilang lihat sedikit nggak apa apa, tapi kalau terus-terusan jangan. Bahkan beliau bilang gini “Kalau di Jepang nggak boleh menggunakan HP saat belajar di kelas, semua dimatikan, disini nggak ya?” Jleb.

·         Jujur & ulet
Setiap latihan, akan datang masa dimana nama kita dipanggil bergantian untuk menjawab soal. Kalau emang kita nggak bisa, dia akan menginstruksikan “ya coba dibantu” supaya teman yang lain memberikan jawaban yang benar. Tapi jangan harap ketika ujian bisa begitu. Setiap minggu, kita dirandom untuk maju menampilkan hafalan kaiwa (percakapan) sekitar 5-10 kalimat perorang. Ketika ada yang lupa lalu pasangan kaiwanya membisikkan bantuan, akan langsung ditegur oleh beliau. Jadi, kita harus nunggu aba-aba untuk membantu atau nggak. Begitu pula saat ujian, jangan harap bisa tanya-tanya teman.

·         Menjalankan tugas dengan sepenuh hati
Nggak ada tuh ceritanya beliau keliatan nggak semangat atau males-malesan ngajar. Selalu all out. Keliling-keliling meriksain tulisan kanji kita, dengerin latihan percakapan kita dan lain-lain. Ada suatu waktu, salah satu teman membawa 2 loyang kue dan memang menyisakan untuk Sakamaki san, beliau yang memang sudah jamnya masuk sedang menaruh tas di meja guru. Teman tadi kemudian menghampiri dan menawarkan kue tadi. Kemudian beliau menolak dengan sopan dan mengatakan “nanti saja” wow lagi! Beliau tau itu sudah jam mengajar dan nggak ada alasan buat dia buat makan. Kalo di kita, makan kue sampe setengah jam juga gakpapa deh. Hahahahha

Yak, itu tadi beberapa hal positif yang gue notice yang bisa gue pelajari langsung dari orang Jepangnya asli. Buat gue sendiri jujur hal itu susaaaaah banget buat diterapin di sini. Jadi, sudah siapkah anda untuk hidup/bekerja/sekolah di Jepang? :D

Friday, 27 March 2015

His Home

"Besok ada kuliah jam berapa?"
"Mmm.. Paling jam 11 Ma, bimbingan doang. Tapi nggaktau sih temen Fitri belum bales juga, biasanya berduaan janjiannya"
"Oh, siang banget dong. Yaudah sana mandi, Fit. Pulang besok kan"
"Hehehe hehehe. Sebenernya jenuh juga sih Ma di kosan terus"

His mom.
Yang walaupun nggak akan bicara dengan intonasi keraton, tapi selalu membukakan pintu pagar dengan senyuman. Selalu menanyakan sudah solat atau belum, menyuruh mandi ketika maghrib tiba sembari menyodorkan handuk bersih, dan menaruh sepasang baju kepunyaan anak perempuannya untuk gue pakai seusai mandi dengan tak lupa menanyakan apakah baju tersebut muat atau tidak di gue (yang tentu saja selalu kebesaran). Bertukar cerita sambil makan malam duduk di lantai. Sesekali tertawa kelewat geli, atau khusyuk bercerita tentang masa lampau

Pagi-pagi menyiapkan teh hangat yang gulanya belum dituang, mengobrol di depan televisi sampai jam sembilan. Memasakkan makan siang bila sempat, melarang pulang bila hujan, dan melambaikan tangan ketika motor yg dikendarai anaknya bergerak maju menuju stasiun. With me on the backside.

And his little sister, yang akan menanggapi ocehan gue dengan "oiyaaa?". Lalu tidur belakangan karena masih menonton bioskop malam di tv.

His home. Yang tak pernah gagal membuat gue tenang.

Usia, Kesempatan dan Pilihan

Mungkin memang usia early 20's seperti gue sekarang adalah masa masa paling "rawan". Kalo usia dibawah 20 adalah masa dimana seseorang belum memikirkan sebab akibat akan sesuatu, belum sadar akan resiko, maka di early 20's ini justru lagi sadar-sadarnya sama resiko, itung-itungan atau apalah namanya. Tapi celakanya, makhluk Tuhan di usia ini terlalu ribet mikirin itungan itu sampe ga jadi jadi ambil keputusan, yang sayangnya terkait masa depannya sendiri *ngomong sama kaca, ya kan Ca?*

Masa-masa peralihan. Istilahnya tuh bakal ada beberapa keluaran yang mungkin: ada yg ga sukses move on dari masa remajanya, ada yang setengah mati maksa biar bisa jadi dewasa, ada yang sukses jadi dewasa dan ada juga yang pasrah sama keadaan. Let it flow aja brow.

Tepat seperti yang sedang gue rasakan sekarang. Antara karena memang terlalu jenuh akan rutinitas selama 4 tahun belakangan ini, terlalu bengah mengingat tanggung jawab yang tak kunjung usai, or simply karena memang gue pengecut bahkan untuk menghadapi my own future.

Di satu sisi gue ingin segera menyelesaikan apa yang sudah gue mulai 4 tahun lalu *yang juga gue mulai dengan susah payah* yang kalau diibaratkan tuh seperti cepirit yang udah tinggal ampasnya doang, dikit, tapi tetep aja masih nyisa dan baunya gak ketulungan. Ya, lulus lalu bekerja sebisanya dan sepahamnya, ngumpulin uang sedikit demi sedikit sampe cape, baru mikirin kehidupan selanjutnya. Hambar. Ya, layaknya orang normal aja gitu.

Sisi lain dari diri gue terus menyemangati diri sendiri untuk menyelesaikan hal kedua yang sudah gue mulai setahun yang lalu. Gile bok, tinggal setengahnya lagi. Gitu kalo kata orang-orang. Sehingga kalimatnya akan menjadi menyelesaikan keduanya dengan bahagia. Lalu kabur ke Jepang, ke Australia, ke Belanda kemanalah. Cari selain rupiah atau kuliah lagi pake beasiswa. Meres otak lagi, jadi peneliti kece, pulang ke Indonesia dengan superbangga. Edisi orang jenius.

Sisi yang lain, cuma pengen nemuin sesosok laki-laki yang mengayomi, yang bener-bener bisa nemenin, pulang ke rumah yang sama setelah ketawa-tiwi seharian, ngetawain kebodohan hari itu. Punya anak tiga yang ngences sana sini, nunggu suami pulang dari KRL pepes, tidur dengan genteng bocor, lauk di meja makan cuma tempe goreng, tapi hati bahagia. Tentram. Nyaman. Nggak butuh apa-apa lagi.

Tapi satu sudut hati yang lain, cuma pengen kabur bawa seluruh duit yang dipunya, pergi tanpa tujuan pasti, ke belantara pedalaman dan pulang tiga bulan kemudian dengan uang recehan, muka dekil dan hitam, tapi membawa pulang hati yang hangat. Hangat karena membuat orang lain bahagia dengan "tindakan super sederhana" kita.

Belum dewasakah gue? Ya. Pasti