Google+ Followers

Tuesday, 28 April 2015

(Langsung) Sekolah Lagi?

"gue bingung ini thesis.."
deg.

kalimat yang meluncur dari percakapan dengan seorang teman sekelas mendadak memutar kran ingatan gue. Pusingnya skripsi yang miris ini tiba-tiba bertumbukan sama kenyataan kalau ada yang harus gue mulai juga. Sisa dua semester lagi untuk menyelesaikan masa studi normal program magister. Dan gue sudah harus memikirkan akan dibawa kemana thesis gue nantinya.

Ahhh.. Banyak orang yang mendukung untuk langsung melanjutkan kembali studi. Dengan pertimbangan "semangat yang masih menyala" dan yang paling klise "mumpung belum kenal uang". Dan dalam konteks yang lebih spesifik, sebagai seorang perempuan; bahwa anak-anak cerdas lahir dari ibu yang cerdas, dan ibu yang cerdas sudah mempersiapkan bekal pendidikan anak-anaknya jauh sebelum ia lahir. Orang tua gue sendiri lebih condong pada alasan yang kurang lebih merangkum beberapa poin "nanggung, dan mumpung". Mumpung ada kesempatan, mumpung dana ada, mumpung masih muda, dan mumpung mumpung yang lain.

Tapi banyak juga yang meragukan. Dari yang paling teknis seperti keabsahan kualitas dari kampus negeri sendiri, sayang dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan yang-belum-bisa-dicari-sendiri. Yang nyegrak nyegrak dan terkait gengsi kaya "emangnya kalo udah punya ilmu banyak mau apa, gak tau aplikasinya" atau super idealis "sekolah lagi ya mesti di luar negeri" sampai yang cenderung kolot "ngapain cewek sekolah tinggi-tinggi, jatahnya lelaki itu, ntar juga jadi penunggu rumah". Semua sudah pernah gue dengar.

Gue akui, dari secuil pengalaman dalam kelas dua semester ini, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan matang untuk lanjut atau tidak. Karena gue mengalami perbedaan yang cukup signifikan antara kuliah sebelumnya (ya, yang belum selesai selesai itu) dengan kuliah lanjutan. Kuliah lagi, tentu kita akan dikumpulkan dengan sekelompok orang-orang yang tidak kebetulan punya tekat, punya kewajiban, atau paling pahit ya kelebihan uang sehingga memilih untuk menghamburkan sedikit pundi-pundinya. Dan kenyataannya, kebanyakan dari mereka sudah memiliki pengalaman kerja yang tentu nggak bisa diukur dengan alat ukur apapun.

Nggak ada lagi tuh isi kelas yang "kurang" dibanding yang lain. Semua "sama", semua "terpilih". Otomatis, rima dan ritme proses belajar dan pembelajaran akan meningkat drastis. Waktu semester dahulu, dengan 26 sks gue bisa melanglang syalala syududu sambil cengar cengir kanan kiri. Iya gue memang lelah waktu itu, I did my best waktu itu, tapi masih ada stok "cengengesan" yang tersisa yang masih bisa gue tembakkan. Sekarang? 12 sks yang gue pegang sudah cukup untuk membuat gue mimpi buruk sepanjang malam setiap esok harinya mau kelas. Huahahaha.

Nggak ada lagi tuh tugas isian yang bisa enak di googling. Nggak ada lagi tuh ujian UTS atau UAS 5 poin yang dikerjain di buku ujian. Nggak bisa lagi tuh nyuri-nyuri tidur di dalem kelas, seenak udel cabut. Semuanya UUP. Ujung-ujungnya progress. Ujung-ujungnya project. Saat dosen masuk kelas, konseplah yang diberikan sedikit. Sisanya? Balik lagi ke kita masing-masing. Mau pinter ya, monggo. Mau engga ya, tanggung sendiri. Di kelas manggut manggut mantep, pulang ke rumah kok ya ora mudheng blas. Ini baru semester dua, gimana nanti?

Akhir kata, (langsung) sekolah lagi apakah pilihan yang tepat? Yang bisa menjawab hanyalah diri kita sendiri. Kapan bisa menjawab? Gue sendiri belum dapat jawabannya :)) (dan belum membuat keputusan)

2 comments: