Google+ Followers

Tuesday, 16 December 2014

Usia dan Kedewasaan

Usia tidak menjamin tingkat kedewasaan seseorang. Sampai jengah gue mendengar itu. Sedikit banyak gue setuju. Sedikit banyak banyak. Sedikit sedikit banyak. Akhirnya gue menyerah, bimbang.

Tak ayal memang bilangan angka memengaruhi juga. Ya, mungkin perlu dikoreksi, kisaran angka tertentu. Kali ini gue menyadari perbedaan menghadapi perilaku umat manusia dalam kisaran bilangan angka yang berbeda, sebut saja usia.

Berpikir amat pendek, egois, dan sepotong-sepotong. Tidak tuntas. Tidak rasional. Terburu-buru. Melanggar apa yang pernah diucapkannya sebelumnya, hanya karena merasa terancam. Tentu saja setidaknya bagi dia, merasa terancam. Padahal belum tentu? Namanya juga pikiran pendek. Panik. Ego. Congkak. Semua keluar. Semua karena belum dewasa.

Dewasa? Jadi dewasa benar-benar dinilai dari angka? Ah entahlah. Jadi berputar lagi. Yang jelas baru saja aku jengah menghadapi anak kecil. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan merengek malu.
Sebentar, ataukah gue yang anak kecil?

Keluar, keluar dari kotak kayu itu. Bisa jadi bilangan jelas besar, tapi pemikiran nol. Lihat dunia, lihat yang belum pernah di lihat. Bukankah hidup ini bukan hanya sejengkal dua jengkal? Bukankah dengan memandamg lebih luas kita jadi bisa menilai sesuatu dari parameter yang lebih terbuka? Egoisme, minimal terdegradasi, syukur-syukur menciut. Keluar, keluar dari goa itu. Buka pikiran, carilah kedewasaan.

Jadi, menjamin? Bisa ya, bisa tidak.

No comments:

Post a Comment